Kurangi Kontroversi, Presiden Prabowo Disarankan Batasi Pidato Paling Lama 45 Menit

Analis komunikasi politik, Hendri Satrio, dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (21/08/2026). Foto: Wahyu Suryana
Analis komunikasi politik, Hendri Satrio, dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (21/08/2026). Foto: Wahyu Suryana

Analis komunikasi politik, Hendri Satrio, memberikan saran-saran kepada Presiden Prabowo agar pidato yang disampaikan tidak menimbulkan kontroversi. Pertama, ia menekankan, Presiden Prabowo harus mulai membatasi waktu untuk setiap pidatonya.

“Batasi pidato Presiden, jangan lama-lama, paling lama tuh 45 menit saja, kalau mentok-mentok satu jam,” kata Hensa kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (21/08/2026).

Kemudian, ia menyarankan, dalam materi pidatonya diberikan saja pointer-pointer, sehingga hal-hal yang penting tidak perlu semua dibacakan Presiden Prabowo. Sebab, selama ini data-data yang disampaikan malah lebih sering menimbulkan kontroversi.

“Sementara, Presiden kita ini senangnya itu impromptu, dia senengnya itu cerita, dia senangnya bicarakan apa yang ada di pikiran dia. Kalau teks plus impromptunya dia itu pasti akan panjang banget. Gini saja, Pak, ini adalah slide-slide, Pak, jadi Bapak ngomong saja terserah, nanti slide-slide kita tayangin,” ujar Hensa.

Ia menilai, batasan-batasan seperti itu lebih bisa membuat Presiden Prabowo lebih leluasa menyampaikan ceritanya. Apalagi, Hensa menyampaikan, selama ini Presiden Prabowo tampak berusaha menampilkan sisi sebagai orang yang ramah kepada rakyat.

Selain itu, ia mengingatkan, Presiden Prabowo memiliki banyak stigma-stigma yang melekat seperti galak, suka marah-marah, diktator, dan lain-lain. Karenanya, Hensa merasa, Presiden Prabowo berusaha membuktikan kalau dirinya tidak seperti itu.

“Jadi, dia coba ngobrol, coba bercanda, coba ini, coba itu. Terus, kadang-kadang sebetulnya sih gini, bercandanya itu sih oke, yang tidak oke tuh kalau dia suka emosi, tiba-tiba Londo Ireng, walaupun mungkin maksudnya bercanda,” kata Hensa.

Namun, ia menekankan, ketika yang menyampaikan itu seorang Presiden, tentu saja bisa menimbulkan kontroversi atau mengakibatkan pro dan kontra. Maka itu, Hansa menyarankan, berikan pointer-pointer sebagai pegangan pidato Presiden Prabowo.

Dari sana, lanjut Hensa, bisa dibatasi lagi materi-materi yang akan ditampilkan, sehingga tidak terlalu panjang potensi pidato yang disampaikan. Pun jika ingin menyampaikan keberhasilan, jangan siapkan materi-materi yang terlalu panjang.

“Ini kelemahannya Presiden ya, itu menteri-menteri Presiden disuruh ngomong sendiri keberhasilan dia apa saja, jangan semuanya Anda yang ngomong. Kalau semuanya Anda yang ngomong, itu kan ada 48 kementerian kalau tidak salah, ya lu rangkum semuanya kebanyakan. Jadi, maksud saya, jangan semuanya Presiden yang bicara,” ujar Hensa.

Ia menekankan, data-data keberhasilan bisa disampaikan Seskab Teddy Indra Wijaya atau Sekneg Prasetyo Hadi. Bisa pula menteri-menteri yang sudah memiliki wakil-wakil menteri itu menyampaikan capaian terkait kementerian/lembaga masing-masing.

Hal itu dirasa lebih bisa meniminalisir kesalahan data-data, mengingat siapa yang menyampaikan merupakan orang-orang yang memang memiliki tanggung jawab atas itu. Bahkan, data-data yang disampaikan sudah jelas bisa lebih terkini atau terbaru.

“Jadi, orang tuh paham, sekolahan yang sudah lu bangun berapa banyak? Anak sekolah berapa banyak? Itu akses ke kesehatan sudah bagaimana? Terus pembangunan jalan raya sudah berapa kilometer? Itu si menteri-menteri suruh ngomong sendiri. Jadi, pada saat lu yang bicara, pidato, tidak kebanyakan topik,” kata Hensa. (WS05)