Sambangi KPU, Sekjen Koalisi Adil Makmur Sampaikan Bela Sungkawa

Konferensi pers Sekjen BPN Prabowo-Sandi di KPU RI. [foto : dokumen KPU RI]

Inisiatifnews – Sekjen Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Sandi, Ahmad Muzani bersama dengan beberapa Sekjen partai koalisi Indonesia Adil Makmur menyambangi kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk menyampaikan rasa bela sungkawa, atas meninggalnya beberapa petugas pemungutan suara yang meninggal saat menjalankan tugasnya.

“Kami sekjen parpol pengusung pasangan Prabowo-Sandi bermaksud kedatangan kami ke hadapan teman-teman komisioner dan Ketua KPU adalah pertama, kami menyampaikan duka cita bela sungkawa simpati yang teramat besar dari kami para sekretaris jenderal partai partai politik yang tergabung dalam koalisi Adil dan Makmur pengusung pasangan Prabowo-Sandi atas banyaknya penyelenggara pemilihan umum di berbagai tingkat yang wafat meninggal akibat berbagai macam sebab,” kata Muzani saat berada di gedung KPU, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (25/4/2019).

Bacaan Lainnya

Peristiwa banyaknya petugas tempat pemungutan suara (TPS) yang meninggal ini juga sudah didiskusikan kepada KPU sebagai penyelenggara pemilu, khususnya dalam kaitan antisipatif.

“Kami diskusikan panjang kepada pimpinan KPU kenapa sampai terjadi begitu amat banyak sampai 104 lebih hari ini tercatat meninggal dunia lebih, ratusan orang harus dirawat di rumah sakit dikasih antisipasi KPU berbagai hal tersebut dan kami mendapatkan beberapa penjelasan,” jelasnya.

Kemudian Muzani juga menyampaikan bahwa seharusnya KPU lebih ketat saat menjaring petugas pelaksana, dimana faktor kesehatan menjadi yang paling urgen.

“Mestinya diskusi kami adalah hal itu harusnya sudah diantisipasi oleh KPU dengan cara pertama merekrut bertugas-petugas penyelenggarakan KPU di berbagai tingkatan yang sehat baik jasmani maupun rohani yang tidak dalam politik partisial sehingga dia bisa menjalankan tugas negara tanpa berbagai macam kepentingan dan itu bisa mengurangi,” ujarnya.

Bagi Muzani, Pemilu 2019 kali ini bisa dikatakan sebagai pemilu terberat dalam sejarah politik di Indonesia.

“Rasanya inilah pemilihan umum yang menurut kami paling berat bebannya paling berat tanggung jawabnya sehingga harus memakan korban sangat banyak,” imbuhnya.

Perlu diketahui bahwa dalam catatan KPU, ada 1027 petugas TPS yang menjadi korban. Dari 1027 data yang berhasil direkap oleh KPU, 883 harus dirawat di Rumah Sakit dan 144 dinyatakan meninggal dunia.

[NOE]