Inisiatifnews – Masih di hari kedua, Jelajah Kebangsaan Gerakan Suluh Kebangsaan sudah sampai di Stasiun Purwokerto, Jawa Tengah. Ini merupakan Seri ke-IV dari sebelumnya yang diselenggarakan di Merak, Gambir dan Cirebon.
Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan, Prof Mohammad Mahfud MD mengaku sangat bangga dengan antusiasme dari masyarakat. Betapa tidak, spot undangan yang sediakan hanya 50 kursi ternyata yang hadir bisa membludak saat acara berlangsung.
“Kami bersepakat dengan KAI undangannya 50 aja. Ternyata banyak bener, ramai sampai kursi ditambah. Berarti ada kerinduan kita semua mendiskusikan kelangsungan ikatan kebangsaan,” kata Prof Mahfud dalam sambutannya, Selasa (19/2/2019).
Kemudian Prof Mahfud juga menyampaikan bahwa dewasa ini banyak pihak yang ingin merubah sistem Indonesia dari demokrasi menjadi Khilafah. Menurutnya, perjuangan kelompok tersebut kini justru menjadi salah satu ancaman tersendiri bagi kelangsungan NKRI di masa mendatangm
“Akhir-akhir ini, ada yang agak mendasar, gerakan HTI, jelas-jelas ingin mengganti NKRI dan Pancasila. Dan jauh sebelum dilahirkan, 12 tahun yang lalu, mendeklarasikan menolak negara kebangsaan, mendeklarasikan negara khilafah. Mereka menolak demokrasi, karena thoghut, bosnya iblis, rajanya setan,” terangnya.
Dampak realitas yang bisa dilihat menurut Prof Mahfud adalah masih adanya sikap intoleransi dari beberapa pihak, termasuk tidak ingin menerima sesuatu yang berbeda dengannya.
“Sekarang menjelang pemilu, tidak muncul secara eksplisit. Tapi tindakan memecah belah, mulai muncul gejala-gejala. Ada sekolah tertentu tidak mau menerima murid lain yang berbeda, yang gak Islam, yang gak mau upacara bendera,” ujarnya.
Bagi Prof Mahfud, orang-orang seperti itu gagal dalam memahami makna Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang sejatinya merupakan warisan dari para tokoh pejuang kemerdekaan, termasuk juga oleh pendiri NU dan Muhammadiyah.
“Seakan-akan lebih islam begitu. Nabi Muhammad, KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan gak seperti itu. Apa-apaan itu. Ini harus diberi penjelasan,” tegasnya.
Selain itu, Prof Mahfud juga menilai bahwa organisasi-organisasi besar keagamaan di Indonesia sudah susah payah merawat kebhinnekaan, kebangsaan.
“Ini harus dijaga dan dirawat bersama,” tandasnya.
Dalam diskusi Menjaga Nalar Sehat dan Berbudi yang dimoderatori Savic Ali di pelataran Stasiun Purwokerto tersebut, hadir beberapa tokoh. Selain Prof Mahfud MD ada juga Putri Presiden Gus Dur Alissa Wahi, Sastrawan Ahmad Tohari, Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto Jebul Suroso, rohaniawan Romo Benny Susetyo, Wakil Bupati Banyumas, dan sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh adat Jawa Tengah. (FAQ/NOE)
