Gara-gara Puisi, Santri Kudus Bakal Balas Fadli Zon di Pemilu 2019

santri kudus
Aksi santri di Kabupaten Kudus protes puisi Fadli Zon. [Istimewa]

Inisiatifnews – Koordinator Aliansi Santri Membela Kiyai (Asmak), Muhammad Sa’roni tak ambil pusing dengan sikap Fadli Zon yang enggan mengakui kesalahannya dan tak bersedia meminta maaf terkait dengan puisi berjudul “Doa Yang Ditukar”.

Apalagi dalam puisi tersebut, Sa’roni masih menilai bahwa kata “Kau” adalah narasi yang diarahkan kepada Kiyai Maimoen Zubair alias Mbah Maimoen.

Bacaan Lainnya

“Kalau memang seperti itu, kami akan menindaklanjuti aksi kami dengan cara yang lain, jadi kita tunggu saja,” kata Sa’roni di Kudus, Jawa Tengah, Senin (11/2/2019).

Ia menegaskan bahwa cara lain yang dipakai sebagai bentuk protes mereka terhadap puisi karya Wakil Ketua DPR RI tersebut adalah dengan menggalang kekuatan untuk tidak memilih siapapun yang berkaitan dengan Fadli Zon di Pemilu 2019.

“Ya mau apalagi. Tentunya bagaimana kami ingin menunjukkan bahwa kami punya kekuatan di 17 April nanti. Bukan aksi, tapi gerakan masif bahwa kami akan menunjukkan calonnya akan kalah di Kudus,” tegasnya.

Perlu diketahui bahwa Asmak sebelumnya telah melakukan aksi unjuk rasa dengan cara berdoa dan beristighosah bersama di sekitar Alun-alun Kabupaten Kudus. Aksi yang sempat dilakukan dengan menutup jalan sejenak itu merupakan aksi desakan agar Fadli Zon yang merupakan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra agar meminta maaf terkait dengan puisi yang dinilai banyak kalangan sebagai psywar terhadap Mbah Maimoen.

“Hentikan sikap mencela kiai. Fadli Zon minta maaf dan bertaubat,” tegas Sa’roni, Jumat (8/2).

Sayangnya, aksi para Santri di Kudus itu tak terlalu digubris oleh Fadli Zon, dan hanya menilai jika aksi mereka sebagai gerakan politis. Sementara terkait dengan tudingan dirinya menghina Mbah Maimoen, Fadli justru menilai jika Pengasuh Pondok Pesantren Anwariyah Rembang itu adalah sosok kiyai yang arif.

“Jadi jangan dipolitisasi, jangan ‘digoreng’, maupun dipelintir. Nggak ada sama sekali. Saya mengenal beliau adalah ulama yang baik, ulama yang humble, ulama yang arif,” kata Fadli di Senayan, Senin (11/2/2019).

Sementara desakan untuk meminta maaf terhadap karya puisinya itu, Fadli ogah meminta maaf karena sama sekali tidak merasa bersalah.

“Yam untuk apa saya melakukan sesuatu yang tidak saya lakukan,” tegasnya. [ibn]