Mahfud MD Sebut Kader dan Alumni HMI Boleh Beda Pilihan Politik

Inisiatifnews – Mantan Presidium Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Mohammad Mahfud MD mengungkapkan, kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan para alumninya yang tergabung dalam KAHMI boleh berbeda pilihan politik pada Pemilu 2019.

Tetapi, Mahfud MD mengingatkan, tujuan utama berkhidmat untuk NKRI dengan memberi ruh Islam sebagai rahmatan lil alamin harus tetap dijaga.

Bacaan Lainnya

“Pilihan politik boleh berbeda. Nafas dan ruh Islam harus tetap mewarnai perjuangan untuk berkhidmat kepada NKRI,” imbau Mahfud saat bertemu dengan para eksponen KAHMI di Hotel Four Points, Medan, Sumatera Utara, Jumat sore, (08/02/2019).

Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan ini sama sekali tidak mempermasalahkan eksponen KAHMI yang menemuinya berasal dari berbagai dari caleg partai politik beragam. Untuk berjuang, kader HMI bisa melewati pintu yang berbeda-beda (min abwabil mutafarriqoh).

“HMI dan alumninya itu tidak haram, juga tidak wajib untuk masuk parpol apa pun, tergantung niatnya saja untuk berjuang sesuai jatidiri insan cita,” tambah Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN) ini memberi contoh kisah Nabi Ya’kub saat memerintahkan anak-anaknya agR masuk melalui pintu yang berbeda-beda untuk menemui Kepala Negara di Istana.

Dikisahkan Mahfud, di dalam Al Qur’an Surat Yusuf, anak-anak Nabi Ya’kub merasa tidak akan bisa melaksanakan tugas yang diberikannya untuk masuk ke istana kepala negara (Nabi Yusuf) karena dijaga ketat oleh pengawal.

Nabi Ya’kub lantas menyarankan anak-anaknya untuk masuk melalui pintu-pintu yang berbeda. Setelah ada salah satu yang berhasil masuk, orang tersebut yang bertugas memohon kepada kepala negara agar saudara-saudaranya ikut dipanggil masuk.

“Kisah Nabi Ya’kub dan anak-anaknya itu memberi pelajaran bahwa warga HMI dan KAHMI boleh ikut barisan politik apapun yang sah secara konstitusional. Tetapi saat berhasil masuk ke pusat kekuasaan, hendaknya bersatu visi dan langkah dengan teman-teman yang lain untuk mempejuangkan NKRI yang berparadigma ke-Islaman dan ke-Indonesiaan berdasarkan Pancasila,” ungkap Mahfud.

Seperti diketahui, saat ini, Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini berada di Medan, Sumatera Utara menjadi keynote speaker dalam dialog Gerakan Suluh Kebangsaan dengan tema keberagaman dan nasionalisme yang akan berlangsung besok pagi, Sabtu (09/02/2019) di Hotel Four Points Medan. (FM)