Lepas Identitas Parcok! Mahfud MD Dorong Suyudi Kembalikan Profesionalitas Polri

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD (kanan), dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (06/10/2026). Foto: Wahyu Suryana
Pakar hukum tata negara, Mahfud MD (kanan), dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (06/10/2026). Foto: Wahyu Suryana

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, menyambut baik pergantian pucuk pimpinan Polri dari Listyo Sigit Prabowo ke Suyudi Ario Seto. Ia merasa, pergantian ini merupakan momentum membenahi Polri, termasuk melepaskan diri dari Parcok atau Partai Coklat.

“Kapolri yang diangkat oleh Pak Prabowo ini harus membantu presiden karena dia alat negara, kepala negara itu adalah presiden. Oleh sebab itu, bantu saja kepentingan-kepentingan presidensialnya, tapi jangan sampai melakukan fungsi-fungsi partai,” kata Mahfud kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (06/10/2026).

Ia menilai, Prabowo sebagai presiden memiliki keistimewaan untuk memakai fasilitas kepresidenan dan itu memang harus dibantu jaga keamanannya oleh Polri. Tapi, Mahfud menekankan, sebatas itu dan jangan malah menjadi parcok masuk ke arena politiknya.

“Tolong Polri bantu, jaga keamanan dia, tapi jangan menjadi parcok di mana sudah ikut main di dalam politik, saya kira itu sudah menjadi pengetahuan umum. Tadi saya melihat (pensiunan) perwira Polri di sebuah podcast, Pak Napoleon, kami katanya dengan pergantian Pak Suyudi ini berharap Polri ya Polri, kami senang Polri menjadi Polri, bukan menjadi parcok, kami malu Polri disamakan dengan parcok,” ujar Mahfud.

Ia menuturkan, terlepas kontroversi sosok Napoleon, aspirasi itu merupakan aspirasi yang sama sudah disuarakan polisi aktif maupun pensiunan, polisi kecil sampai yang berbintang. Apalagi, Mahfud mengingatkan, di Polri dikenal prinsip Satya Haprabu.

Mahfud menilai, prinsip itu jangan malah disalahpahami, tapi perlu dimanfaatkan untuk melaksanakan tugas-tugas secara benar dan mengembalikan profesionalitas Polri. Ia berharap, Polri bisa kembali mendapat kepercayaan publik di bawah Suyudi.

“Polri itu gampang, kalau pimpinannya mau baik, sudah ikut semua, kan Polri begitu, TNI juga, hirarkis. Kita berharap agar itu betul dilaksanakan untuk profesionalitas Polri dan Pak Prabowo supaya dibantu, harus dibantu sebagai presiden yang menang pemilu tidak boleh diganggu, cuma jangan sampai Polri menjadi Parcok,” kata Mahfud.

Selain itu, ia menyampaikan, banyak publik yang resah lantaran banyak oknum-oknum Polri yang menjadi backing, jadi pemeras, dan tindakan-tindakan premanisme lain. Mahfud mengapresiasi langkah Suyudi yang melakukan mutasi besar-besaran di awal.

“Itu Suyudi semua yang mengganti itu, Yogya yang menjadi basis pun tetap diganti. Artinya, ini harapan, bukan kita dendam atau marah kepada Pak Listyo, Pak Listyo sudah bekerja dengan baik dalam hal-hal tertentu, tapi yang ini harus diperbaiki,” ujar Mahfud.

Ia berharap, Suyudi bisa merangkul lagi mereka yang terbuang karena berbeda, dan yang sudah diangkat Listyo bisa diproporsionalkan. Artinya, tidak harus dibuang balik, tapi diaduk kembali menjadi satu kesatuan Polri di bawah kepemimpinannya.

“Kita juga tahu waktu Komisi Reformasi Polri yang datang melapor orang berbintang, pensiunan, perwira aktif bintang 1, 2, 3, tapi tidak berani ngomong karena Satya Prabu itu. Sekarang, Pak Suyudi tahu dan umurnya masih cukup produktif untuk ini. Kita berharap, kita tidak marah-marah ke Polri melulu, saya kira itu catatan kita,” kata Mahfud. (WS05)

Temukan kami di Google News.