Berharap Presiden Prabowo Tegas ke Militer yang Harusnya Melindungi, tapi Meneror Rakyatnya Sendiri

Tokoh Madura, Islah Madura, dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (01/04/2026). Foto: Wahyu Suryana
Tokoh Madura, Islah Madura, dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (01/04/2026). Foto: Wahyu Suryana

Tokoh Madura, Islah Bahrawi, mengomentari teror-teror kepada aktivis yang banyak terjadi beberapa waktu terakhir. Salah satunya kepada Andrie Yunus yang menerima penyiraman air keras, yang belakangan diketahui dilakukan oleh oknum-oknum tentara.

Ia menekankan, kita semua ingin dalam keadaan apapun negara ini tetap solid, tetap bersatu, untuk bersama mengarungi berbagai ancaman. Jangan sampai tindakan-tindakan konyol yang dilakukan segelintir militer membawa ke jurang kehancuran yang sama.

“Hari ini semua masih berusaha menahan diri, terutama bagi berbagai tindakan-tindakan pemerintah selanjutnya. Kita semua masih menunggu sampai sebatas mana Presiden bisa mengatasi berbagai pelanggaran teror yang dilakukan kepada aktivis, kita semua tidak akan diam,” kata Islah kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (01/04/2026).

Ia mengingatkan, bagaimanapun supremasi sipil atas militera jadi gerakan bersama yang bisa menjaga tegaknya demokrasi. Mengutip Fukuyama, kemunduran demokrasi dalam satu negara salah satunya karena tindakan teror militer yang menakuti rakyatnya.

Islah menilai, ketakutan-ketakutan itu sudah menghinggapi sebagian dari rakyat yang berusaha bersuara kritis ke pemerintah. Ia menegaskan, masyarakat tidak akan bisa dibungkam dengan suara-suara dan teror-teror yang berusaha menakuti masyarakat.

“Karena, bagaimanapun kita sekali lagi tidak boleh terjungkal di lubang yang sama. Saudaraku semua, kita semua rakyat Indonesia harus berusaha untuk melawan berbagai gerakan-gerakan intimidatif ini, baik yang dilakukan oleh militer, kepolisian, atau dilakukan oleh kelompok manapun preman manapun yang berusaha ingin memundurkan demokrasi kita. Hari ini kita bersama rakyat harus bersuara,” ujar Islah.

Menurut Islah, kejadian-kejadian teror seperti yang menimpa Andrie Yunus tidak boleh lagi terjadi kepada aktivis. Sebab, apa yang aktivis-aktivis ini lakukan sebenarnya hanya ingin meluruskan trajektori negara kepada kemakmuran bersama.

Ia menyampaikan, kita semua ingin militer ada di posisi sebagai pasukan pertahanan, polisi sebagai penegak keamanan. Maka itu, penting menegakkan profesionalisme militer, menekuni keilmuan pertahanan, atau kembangkan teknologi pertahanan.

“Kita melihat perang di luar sana sungguh jauh dari kita sampai saat ini teknologi militernya seperti apa, teknologi perangnya seperti apa, asimetrik warfare yang mereka lakukan, benar-benar kita meyakini tentara kita masih jauh dari mereka dan ditambah kejadian teror terhadap aktivis ini, kita semakin pesimis kalau ternyata tentara kita tidak lagi menekuni tugas fungsi paling utama mereka,” kata Islah.

Ia menambahkan, tidak ada yang ingin mendevaluasi ketentaraan kita. Semuanya hanya ingin supaya militer kita profesional dan betul-betul punya kompetitiveness dengan negara-negara lain dalam persoalan-persoalan pertahanan dan juga teknologi militer.

Islah menilai, kita semua bangga terhadap militer kita. Tapi, ketika tentara hadir dalam teror-teror terhadap rakyat sendiri, ini artinya kepengecutan karena mereka berani kepada bangsanya sendiri, tapi tidak berkutik terhadap bangsa lain.

“Mudah-mudahan negara ini tidak lagi hidup dalam ruang-ruang ketakutan. Kita ingin Presiden kita tegas terhadap aksi-aksi militer kepada rakyatnya sendiri yang justru harus dilindungi. Mari masyarakat sipil terus bergerak menyuarakan suara-suara kritis terhadap kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat dan juga mari kita terus memberdayakan suara-suara kritis ini demi kemaslahatan kita bersama,” ujar Islah. (WS05)

Temukan kami di Google News.