Mahfud MD: Secara Simbolik BEM UGM Sudah Meneriakkan Sesuatu yang Benar

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (17/02/2026). Foto: Wahyu Suryana
Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (17/02/2026). Foto: Wahyu Suryana

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, mengomentari surat yang dikirim Ketua BEM UGM ke UNICEF usai tragedi siswa SD yang bunuh diri karena tidak mampu membeli alat tulis. Ia menilai, itu wujud kegalauan dan keresahan atas pendidikan di Indonesia.

“Itu mungkin sudah sangat galau, sangat resah ini Ketua BEM UGM, kok bisa terjadi begini negaraku, lalu kirim surat ke UNICEF, UNICEF saya kira tidak bisa mengambil tindakan apa-apa,” kata Mahfud kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (17/02/2026).

Hal itu, lanjut Mahfud, dikarenakan UNICEF bukan pengambil keputusan dan keputusan politik hanya bisa dikeluarkan PBB. Tapi, ia merasa, sulit pula PBB menjatuhkan sanksi karena ini persoalan tata kelola dan tanggung jawab internal sebuah negara.

Bagi Mahfud, UNICEF tentu tidak bisa melakukan apa-apa terhadap tata kelola sebuah negara dan mungkin hanya bisa memberi atau mencarikan bantuan. Meski begitu, ia berpendapat, apa yang disampaikan Ketua BEM UGM merupakan keresahan masyarakat.

“Menurut saya secara simbolik Ketua BEM UGM sudah meneriakkan sesuatu yang benar,” ujar Mahfud.

Ia menilai, apa yang disampaikan Ketua BEM UGM sekadar kebebasan berpendapat dan tidak memiliki muatan kriminal. Mahfud melihat, biasa saja jika ada anak muda yang mungkin cukup keras karena memang dalam rangka apa yang disampaikan dapat didengar.

Bahkan, ia berpendapat, keras itu dimaksudkan bukan hanya agar bisa didengar oleh UNICEF, tapi semua orang ikut memviralkan. Menurut Mahfud, tidak apa-apa sesuatu yang benar seperti itu diviralkan, jangan malah dijawab dengan rekayasa-rekayasa.

“Jangan dilawan di-counter dengan viral yang sebaliknya, yang sengaja direkayasa, ini kan negara kita, kita ingin baik bersama-sama, kan begitu,” kata Mahfud.

Mahfud menyayangkan Ketua BEM UGM yang menyampaikan keresahan itu belakangan malah mendapat penguntitan. Ia menyampaikan, hal-hal itu kadang fakta yang harus diterima karena mungkin dilakukan orang suruhan aparat pemerintah atau aparat penegak hukum.

Tapi, ia turut menyampaikan, ada pula pihak-pihak yang mengambil kesempatan untuk membuat kekeruhan seakan orang itu dikuntit. Mahfud menegaskan, tindakan-tindakan seperti itu yang dilakukan kepada mereka yang mengkritik merupakan tidak beradab.

“Sama juga dulu Ketua BEM UI itu kan, yang begitu keras, lalu ibunya yang didatangi di sana, dibongkar rahasia-rahasia pribadinya, gitu, itu tidak beradab sebenarnya,” ujar Mahfud.

Mahfud menambahkan, pemerintah harus merespons ini dengan baik dan menyelesaikan permasalahan yang ada. Ia mengingatkan, kejadian-kejadian memilukan seperti yang dialami siswa yang bunuh diri dan anak yang menjual tisu harus menjadi evaluasi.

“Harus menjadi bahan evaluasi ini apa yang terjadi, terutama menyangkut anak-anak kita semua, saya ngeri anak-anak kita di Indonesia yang kita tidak bisa bayangkan ini besok bisa kerja apa, besok bisa jadi apa kalau kecil saja makan tidak bisa,” kata Mahfud. (WS05)

Temukan kami di Google News.