Rupiah Melemah dan Ekonomi Melambat, Keputusan Menjaga BI Rate Tetap 4,75 Disorot

Ekonom senior, Halim Alamsyah, dalam program B.E.P di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (31/12/2025). Foto: Wahyu Suryana
Ekonom senior, Halim Alamsyah, dalam program B.E.P di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (31/12/2025). Foto: Wahyu Suryana

Bank Indonesia memutuskan untuk menjaga BI Rate di 4,75 persen. Ekonom senior, Halim Alamsyah mengatakan, kalau kita mencoba membawa jalan berpikir Dewan Gubernur BI tentu tidak lepas dari kondisi ekonomi, makro maupun sektoral, serta resikonya.

Ia melihat, kebijakan BI kalau mau dilihat lebih mudah sebenarnya dibagi dua. Yaitu, kebijakan moneter dalam pengetahuan yang tradisional yang terkait dengan suku bunga, lalu yang berikutnya lagi kebijakan yang dinamakan makro prudensial.

Bicara tentang kebijakan monoternya sendiri, yaitu suku bunga dan bagaimana nanti Bank Indonesia apakah mau melakukan ekspansi ataukah kontraksi moneter, Halim berpendapat, itu tentu kita harus melihat kondisi makro ekonomi Indonesia.

“Kalau saya melihat perkembangan ekonomi kita ya mungkin kita pakai tiga indikator utama. Pertama pertumbuhan ekonomi, kedua mengenai inflasinya sendiri dan tentu nomor tiga yang dilihat selalu oleh BI adalah perkembangan nilai tukar rupiah kita,” kata Halim kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program B.E.P di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (31/12/2025).

Ia mengingatkan, perkembangan inflasi kita relatif dalam beberapa tahun terakhir itu di bawah 3 persen. Bahkan, sempat di periode 2023-2024 itu terus menurun dan baru akhir-akhir 2005 sejak awal tahun sudah ada tanda-tanda tekanan inflasi.

Tentu menjadi pertanyaan karena pertumbuhan ekonomi tidak terlalu tinggi. Artinya, sudah boleh dibilang 10 tahun terakhir ekonomi terjebak di angka 5 persen. Halim menilai, inflasi akhir-akhir ini lebih didorong kenaikan pertumbuhan ekonomi.

“Berarti, ini ada risiko yang lain ini yang berada di balik angka-angka ini kalau menurut saya ya, dan kita tahu ternyata salah satunya dari apa yang saya baca dan saya teliti yaitu pelemahan rupiah. Rupiah kita selama 2025 itu cenderung melemah,” ujar Halim.

Jika dihitung, lanjut Halim, rupiah kita mengalami depresiasi terhadap dolar kurang lebih 7-8 persen dan tekanan untuk pelemahan rupiah terlihat sepanjang tahun. Jadi, ekonomi kita tumbuh hanya 5 persen, bahkan Domestic Demand mengalami pelemahan.

“Dan itu jadi isu kan karena golongan menengah kita pendapatannya berkurang. Jadi, inflasinya ini bukan karena tekanan permintaan, tapi lebih banyak karena mungkin dari sisi kenaikan harga barang-barang impor. Ini mungkin ada juga kaitannya dengan dampak dari tarif Trump, walaupun tidak besar tapi yang pasti rupiah ini melemah,” kata Halim.

Menurut Halim, pelemahan ini mungkin sedikit banyak berpengaruh kepada inflasi. Karenanya, tentu menjadi pertanyaan atas keputusan BI menjaga BI Rate 4,75 melihat kondisinya itu berbeda daripada pandangan masyarakat yang terlihat secara umum.

Artinya, Halim menambahkan, kita secara umum sebagai masyarakat tentu saja melihat pertumbuhan kita baru 5 persen atau belum optimal. Masih banyak kapasitas terpasang di beberapa pabrik-pabrik kita yang tidak terpakai, bahkan PHK makin banyak terjadi.

“Tapi, kenapa kemudian BI-nya kok nggak mau dorong pertumbuhan ekonomi? Berarti ini BI melihat ada masalah lain. Nah, itu saya melihat salah satunya adalah pelemahan rupiah ini. Nah, tentu saja pertanyaannya pelemahan rupiah ini kenapa,” ujar Halim. (WS05)

Temukan kami di Google News.