Pemimpin-Pemimpin Islam Zaman Dulu Ternyata Selalu Punya Visi Internasionalisasi

Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Prof. Al Makin (kanan), dalam program Perspektif One on One di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (02/07/2026). Foto: Wahyu Suryana
Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Prof. Al Makin (kanan), dalam program Perspektif One on One di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (02/07/2026). Foto: Wahyu Suryana

Guru Besar Filsafat UIN Sunan Kalijaga, Prof. Al Makin mengatakan, kekhalifahan yang bisa dibilang paling sukses membesarkan Islam banyak terjadi dalam dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Muawiyah misal, jadi khalifah yang sangat sadar sejarah.

“Sangat sadar akan sejarah, sangat sadar akan sastra, sangat sadar akan taktik politik, diplomasi, sangat sadar pada kebesaran, go international. Kenapa? Kalau dia mempertahankan ibu kota itu di Madinah, ya selamanya Islam ya di situ-situ saja,” kata Al Makin kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Perspektif One on One di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (02/07/2026).

Konon, ia menuturkan, Umar bin Khattab merupakan khalifah yang memiliki visi untuk membawa Islam ke Damaskus, Suriah, mendekat ke Konstantinopel (Istanbul). Bahkan, khalifah Abdul Malik bin Marwan dan Umar bin Abdul Aziz sudah mengadopsi mata uang.

“Mengadopsi mata uang, administrasi, sistem militer, kan yang dipakai waktu itu mata uang Romawi ya, Denarius, makanya disebut Dinar. Muawiyah pada dasarnya adalah meletakkan fondasi politik, bukan hukum. Kemudian, filsafat, kalam, maka terjadi penerjemahan dari karya-karya Yunani ke dalam Bahasa Suryani dan ke dalam Bahasa Arab itu dimulai dari Umayyah, dan di Abbasiyah itu puncaknya,” ujar Al Makin.

Al Makin turut mengungkap alasan kencederungan pemimpin-pemimpin Islam belakangan membuat fiqh mendominasi. Ia menerangkan, Islam yang dipilih masyarakat Indonesia harus diakui merupakan Sunni dan salah satu cirinya rata-rata cenderung ke hukum.

Itupun terbatas dengan empat mazhab yaitu Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali dengan sisi kalam dari Asy’ariyah dan Maturidiyah. Sedangkan, negara-negara seperti Iran yang Syiah memiliki perbedaan dengan fiqh yang bukan sebagai orientasi utama.

“Iran filsafat, tasawuf, sastra, ingat sastra luar biasa di Persia. Bahkan, dua sahabat nabi terkemuka yang bersaing antara Muawiyah dan Ali bin Abi Thalib bersaing, berperang, tapi dua-duanya mempunyai visi yang sama, visi dalam soal internasionalisasi, ke luar dari cangkang, kungkungan lembah Arab, Muawiyah ke Damaskus, Ali ke Kufah dan Basrah, dan inilah fondasi Abbasiyah,” kata Al Makin.

Al Makin menilai, pemimpin-pempimin Islam dulu memang sudah melihat kalau sekadar berpegang satu tradisi tentu Islam tidak bergerak luas. Bahkan, ia menerangkan, Umar bin Khattab sudah jelas membuka jalur ke Yerusalem atau ke Damaskus.

Artinya, Al Makin menambahkan, orientasi dari pemimpin-pemimpin Islam itu memang sudah internasionalisasi. Hal itu yang membuat Islam berjaya karena Islam bisa menjadi sistem yang kemudian dilanjutkan oleh generasi-generasi berikutnya.

“Seperti yang tadi saya bicarakan bahwa memang orientasi para pemimpin-pemimpin, sahabat nabi di awal itu jelas go internasional. Seperti Umar, Umar yang mengutus Muawiyah bin Abu Sofyan menjadi Gubernur di Damaskus, itu Umar gagasannya. Jadi, yang punya visi itu Umar, inilah yang menyebabkan Islam selamat,” ujar Al Makin. (WS05)

Temukan kami di Google News.