Kata Ekonom Soal Peluang BI Turunkan Suku Bunga dan Benar-Benar Pro-Growth di 2026

Ekonom senior, Halim Alamsyah, dalam program B.E.P di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (31/12/2025). Foto: Wahyu Suryana
Ekonom senior, Halim Alamsyah, dalam program B.E.P di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (31/12/2025). Foto: Wahyu Suryana

Ekonom senior, Halim Alamsyah, mengomentari keputusan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga (BI Rate) di 4,75 persen. Ia menilai, kebijakan ini merupakan semacam balancing act, mencoba tidak terlalu ke kanan dan tidak terlalu ke kiri.

Sebab, ia menyampaikan, kadang-kadang kalau memungkinkan BI lebih condong ke pertumbuhan ekonomi dikhawatirkan membahayakan keseimbangan nilai tukar. Tapi, publik tentu mempertanyakan apakah BI mengambil sikap yang sama di tahun ini.

“Apakah ada ruang buat Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga? Masyarakat kan pengennya apakah Bank Indonesia akan bisa pro-growth betulan gitu loh, kira-kira seperti itu kan,” kata Halim kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Bicara Ekonomi Politik di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (31/12/2025).

Halim menuturkan, ada 3 faktor yang perlu dilihat. Pertama, kondisi global. Kalau kondisi global masih seperti sekarang, masih penuh ketidakpastian, akan menyebabkan orang cenderung jadi risk averse atau cenderung hati-hati karena terlalu berisiko.

Apalagi, ia menyampaikan, kalau Yen terus dinaikin suku bunganya, ini tentu akan mengurangi kelonggaran bagi investor-investor untuk melakukan carry trade. Halim menduga, jika Bank of Japan menaikkan suku bunga, mereka akan kembali ke Indonesia.

“Dugaan saya sih kalau misalnya Bank of Japan itu menaikkan suku bunga, ketahuan akan berada sampai di level berapa, kalau sudah ada perdugaan seperti itu mungkin carry trade-nya mungkin masih akan bisa berlanjut terus dan mereka akan kembali lagi ke Indonesia. Tapi, kalau belum tahu mereka sementara ini akan cabut dulu,” ujar Halim.

Kedua, lanjut Halim, ketika kondisi di Amerika Serikat (AS) sudah jelas sikap dari The Fed akan lebih longgar tahun depan. Jika memang itu yang terjadi, ia menilai, akan membuat ruang untuk Bank Indonesia menurunkan suku bunga jadi lebih besar.

Ketiga, tentu saja inflasi. Halim menerangkan, inflasi yang memang mulai naik masih perlu dilihat apakah akan terus naik menuju arah di atas 3,5 persen mengingat batas maksimum range kisaran target dari Bank Indonesia 2,5 plus minus 1 persen.

“Kalau dia naik di atas 3,5 tentu Bank Indonesia mungkin tak akan terlalu seperti kaca mata kuda ya. Tapi, paling tidak kan dia tahu sekali tekanan inflasi ini naik hanya gara-gara datangnya dari depresiasi rupiah, dia juga tak mau,” kata Halim.

Meski begitu, Halim lebih memprediksi BI tetap hati-hati di 2026 dan baru bisa berbeda jika kondisi global membaik. Sebab, ia mengingatkan, kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi membuat pasar lebih percaya kebijakan dalam negeri.

Jika begitu, kata Halim, dengan sendirinya kredibilitas kebijakan dalam negeri Indonesia tentu saja akan membaik. Ia menegaskan, itu pula sebenarnya yang menjadi faktor yang akan membuat investor-investor cenderung masuk lagi ke Indonesia.

“Karena, yang dibeli adalah masa depan, bukan yang sekarang atau yang sudah lewat,” ujar Halim. (WS05)

Temukan kami di Google News.