Leon Hartono: Lebih Mudah Bangun Gedung 9 Lantai daripada Mengurus Izinnya

Pegiat media sosial, Leon Hartono, dalam diskusi bertajuk Pemuda Merawat Nalar Bangsa yang digelar Terus Terang Media di Jakarta Creative Hub, Rabu (15/10/2025). Foto: Pramudya Dwi Saputra
Pegiat media sosial, Leon Hartono, dalam diskusi bertajuk Pemuda Merawat Nalar Bangsa yang digelar Terus Terang Media di Jakarta Creative Hub, Rabu (15/10/2025). Foto: Pramudya Dwi Saputra

Pegiat media sosial, Leon Hartono melihat, hari ini sebenarnya banyak anak muda Indonesia yang ingin jadi pengusaha. Tapi, sering sekali mereka malah tersandung rintangan-rintangan seperti birokrasi untuk mengembangkan usahanya di Indonesia.

Sebagai property developer, ia merasa, kondisi itu tidak banyak terjadi di negara-negara tetangga. Bahkan, Leon berpandangan, di Indonesia pengembang hebat bukan mereka yang ahli membangun atau ahli menjual, tapi yang ahli melewati perizinan.

“Buat kita membangun gedung 9 lantai itu lebih cepat dibandingkan kita mendapatkan perizinan. Jadi, mendapatkan tanda tangan itu tuh lebih lama dibandingkan kita menyelesaikan 9 lantai,” kata Leon dalam diskusi bertajuk Pemuda Merawat Nalar Bangsa yang digelar Terus Terang Media di Jakarta Creative Hub, Rabu (15/10/2025).

Akhirnya, Leon melihat, banyak sekali anak muda yang ingin berusaha soal bisnis, misalnya, harus memikirkan hal-hal di luar bisnis. Ia mengungkapkan, itupun baru berani dia suarakan setelah Leon memutuskan pensiun dari dunia bisnis properti.

Pun di dunia finansial. Pemilik podcast The Overpost itu berpendapat, kita tidak bisa selalu menyalahkan asing. Sebab, ia menekankan, misalnya sebuah saham itu murah, secara logika orang-orang seharusnya mau untuk membeli saham tersebut.

“Misalnya kita di saham banking itu ada DPR, Dividend Payout Ratio, berapa persen mereka bayar dividennya misal, tapi kira-kira ya dividen yield-nya itu misalnya 10 persen, kalau misalnya sebuah saham bisa memberi kita dividen 10 persen seharusnya kan menarik, kita mau masuk, tapi di Indonesia itu tak ada uang yang besar itu,” ujar Leon.

Leon mencontohkan, di Amerika Serikat (AS) ada program yang bernama Pension Fund 401(k). Intinya, orang-orang yang sudah pensiun itu mereka berani untuk langsung menginvestasikan dana pensiun yang sudah mereka tabung sejak lama itu ke saham.

Namun, lanjut Leon, di Indonesia kita memiliki dana pensiun seperti di BPJS mereka tidak ada yang berani investasi saham. Pasalnya, ketika rugi walau secara thought process itu sudah benar, mereka bisa masuk penjara karena jadi yang disalahkan.

“Seperti case-case sekarang, orang-orang pintar, yang sudah benar ingin melakukan investasi, tapi mereka bisa disalahkan karena rugi. Kalau tidak boleh rugi akhirnya kebanyakan dana-dana pensiun kita itu diinvestasikan di obligasi. Akhirnya, saham-saham kita kalau misalnya asingnya ke luar tak ada yang bantu menopang,” kata Leon.

Memang ada harapan seperti Danantara yang berusaha untuk investasi memakai Business Judgement Rule (BJR). Tapi, sekalipun sudah dinanti agar segera disalurkan, semua masih menanti karena dana sekitar Rp 70 triliun yang masuk belum berani disalurkan.

Bagi Leon, ketakutan itu sangat bisa dipahami karena banyak orang-orang pintar yang sebelumnya malah dipenjara sekalipun tidak memperkaya diri sendiri. Meski begitu, ia berusaha melihat dari sudut pandang yang lebih jauh, misalnya berkaca dari AS.

“Saya berusaha take a longer view, berkaca dengan Amerika sendiri menyelesaikan masalah korupsi bukan sekarang 100 % selesai juga. Tapi, dulu dari zaman banyak mafia dimana-mana sampai sekarang itu mereka juga membutuhkan waktu sekitar 100 tahun. Jadi, kita harus bersabar, berproses, tapi terus menyorakan,” ujar Leon. (WS05)

Temukan kami di Google News.