Selain Korea Selatan, Indonesia Bisa Contoh Taiwan dan Vietnam untuk Kembangkan Usaha Kecil

Cendekiawan, Hamid Basyaib mengatakan, Korea Selatan memang bisa menjadi contoh yang bagus dalam pengembangan usaha kecil. Tapi, ia menilai, jika Korea Selatan masih dirasa terlalu jauh perbandingannya, masih ada lagi negara-negara di Asia yang bisa jadi contoh Indonesia untuk pengembangan usaha kecil.

“Ada lagi ukm yang hebat yaitu Taiwan, Taiwan itu ukm-nya luar biasa, dia menyantol sama industri besar sekali, jadi barang barang mewah yang terlihat dibuat industri besar itu di Taiwan itu industri rumahan, mirip-mirip kayak di Swiss, beberapa arloji miliaran beberapa komponen dibuat ukm atau home industry,” kata Hamid dalam program Pojok Keramat di kanal YouTube Mahfud MD Official, Kamis (16/01/2024).

Sebenarnya, ia menuturkan, Indonesia sudah mengalami itu. Misalnya, Astra karena komponen-komponen Toyota beberapa dipesan dari sentra di Klaten. Sekalipun tidak diketahui apa penyebabnya, Hamid merasa, seharusnya langkah itu yang diintensifkan untuk bidang-bidang lain untuk mengembangkan usaha kecil.

“Saya kira Taiwan bisa dilihat, kalau negara-negara barat mungkin terlalu tinggi atau teknologinya sudah terlalu jauh. Vietnam mulai, bahkan Vietnam itu handicraft yang kita mestinya jagoan, saya kira dari segi marketing dan visinya mereka lebih maju,” ujar Hamid.

Selain itu, ia menekankan, dalam rangka membuat langkah-langkah signifikan mengembangkan usaha kecil sudah tidak begitu rumit untuk dilakukan hari ini. Pasalnya, Indonesia sudah tidak seperti dulu lagi ketika penggunaan teknologi terbilang rumit dan harus melibatkan jumlah orang yang bisa dibilang tidak sedikit.

Bahkan, Hamid pernah pula menulis tentang perkembangan teknologi yang sudah ada dalam genggaman seperti handphone. Dalam tulisan itu, ia mengingatkan, kekuatannya HP mencapai 140 juta kali lipat dari seluruh computer yang digunakan Amerika Serikat untuk menggerakkan Apolo 11 pada tahun 1969 silam.

“Jadi, untuk begitu-begitu sebenarnya semestinya sudah tidak ada keluhan, anak-anak muda kita, Gen Z itu pintarnya bukan main, saya tidak pernah ragu sama mereka. Intinya, mereka jauh lebih pintar dari generasi kita, bisa dibikin, murah bukan mahal,” kata Hamid.

Di luar itu, Hamid melihat, hampir semua hal-hal yang dianggap menghambat Indonesia sudah diketahui. Mulai dari red tape birokrasi, rendahnya kualitas dan rendahnya tingkat pendidikan sumber daya manusia kita, bahkan sudah diketahui konsekuensi langsungnya yaitu rendahnya tingkat produktivitas Indonesia.

Sebagai ilustrasi, sekian tahun lalu riset Bank Dunia sudah menyebut produktivitas tenaga kerja kita hanya seperlima tenaga kerja Cina. Walaupun mungkin sekarang sudah berubah, kesenjangannya semakin jauh atau semakin dekat, tapi fakta kerasnya sama, yaitu kualitas pendidikan dan produktivitas kita rendah.

Anehnya, Hamid menambahkan, atas semua masalah-masalah yang sudah teridentifikasi itu seperti tidak ada tindakan yang dilakukan untuk mengatasi itu. Menurut Hamid, penyebabnya bisa jadi political will atau vested interest yang terlalu banyak, pejabat-pejabat yang kolusi dengan pengusaha-pengusaha besar.

“Maksud saya, beberapa persoalan itu, bahkan persoalan-persoalan utama yang membuat pertumbuhan tidak naik itu kan sudah terindentifikasi sejak lama, persoalannya kenapa tidak juga teratasi,” ujar Hamid. (*)

Temukan kami di Google News.