Ekonom Bongkar Hal yang Buat Optimis dan Pesimis dari 2 Tahun Pemerintahan Prabowo

Eknom, Halim Alamsyah, dalam program B.E.P di YouTube Terus Terang Media, Senin (26/10/2026). Foto: Wahyu Suryana
Eknom, Halim Alamsyah, dalam program B.E.P di YouTube Terus Terang Media, Senin (26/10/2026). Foto: Wahyu Suryana

Genap 2 tahun pemerintahan Prabowo Subianto menuai reaksi positif dan negatif dari publik. Ekonom senior, Halim Alamsyah mengatakan, angka-angka di atas kertas memang membangun optimistisme, tapi cerita di balik angka itu justru membuat pesimistis.

“Secara makro yang selalu kita harus kupas adalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dari sisi angkanya saja mungkin cukup tinggi ya, 5,45 selama semester 1,” kata Halim kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Bicara Ekonomi Politik atau B.E.P di kanal YouTube Terus Terang Media, Senin (26/10/2026).

Ia merasa, angka itu memang cukup tinggi karena selama beberapa tahun terakhir Indonesia memang seperti terjebak di angka 5 persen. Tapi, di balik angka itu ada perbedaan besar ketika Prabowo menjadi Presiden dan ingin mendorong sektor itu.

“Ingin mendorong betul-betul sektor pemerintah dalam hal ini, dan di bawah Menteri Keuangan yang lama, Purbaya kita tahu sangat aktif. Mulai memberi bantuan sosial, kemudian juga berbagai langkah-langkah untuk menambah pemerintah, dan menyediakan likuiditas langsung ke sektor perbankan, khususnya ke bank Himbara,” ujar Halim.

Halim melihat, ini bisa mendorong kredit, investasi pemerintah khususnya yang didorong oleh pemerintah, dan ekonominya terlihat bisa tumbuh. Tapi, di sisi yang lain yang membuat orang jadi pesimistis semua itu dilakukan dengan agak sembrono.

Misalnya, dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sebenarnya bisa dilakukan penghematan atau dilakukan langkah-langkah agar menjadi lebih efektif. Tapi, MBG malah terus dijalankan dengan jor-joran, sehingga membaut masyarakat agak khawatir.

“Ada Koperasi Merah Putih juga, di satu sisi memang mendukung berbagai program-program, katakan lah untuk investasi, termasuk juga pertumbuhan kredit yang tinggi di bank Himbara itu sebetulnya sebagian besar itu didorong oleh berbagai program pemerintah ini. Nah, ini membuat masyarakat juga menilai seperti itu,” kata Halim.

Halim bersyukur, belakangan sudah dilakukan perbaikan-perbaikan seperti mengganti Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) karena masalah korupsi. Kemudian, anggaran sudah mulai direprioritaskan agar nanti pengeluaran itu benar-benar lebih efektif.

Ia berharap, langkah-langkah perbaikan tidak mengubah momentum pertumbuhan ekonomi kita, sehingga pertumbuhan masih terjaga tapi dengan cara-cara yang lebih baik. Bagi Halim, jika itu dilakukan angka-angka yang ada bisa berubah jadi optimisme.

“Saya kira kalau itu dilakukan, optimisme angka itu bisa betul-betul berubah jadi suatu optimisme yang baik, yang tidak percaya maupun yang percaya,” ujar Halim.

Halim turut menyoroti sektor-sektor yang ternyata mengalami penurunan penyerapan tenaga kerja. Misal, ia melihat, produktivitas dari sektor-sektor penghasil barang manufaktur, pertanian, dan pertambangan ternyata tidak seperti yang diharapkan.

Sayangnya, yang mendorong malah dari sektor-sektor jasa yang kebanyakan sifatnya tidak formal. Karenanya, orang-orang yang tidak bisa mendapat pekerjaan formal memilih pindah untuk menjadi pedagang-pedagan yang tentu berada di sektor informal.

“Ini mengakibatkan mungkin pendapatan dia tidak tetap, kadang tinggi, kadang turun. Ini mengakibatkan mungkin masyarakat seperti ini dapat pembagian bansos, berbagai program sosial lai. Tapi, ada golongan menengah yang kita tahu susut dalam 10 tahun terakhir sudah susut hampir 10 juta orang. Ini mengakibatkan pendapatannya turun,” kata Halim. (WS05)

Temukan kami di Google News.