Guru Besar Filsafat UIN Sunan Kalijaga, Prof Al Makin mengatakan, politik memang merupakan sesuatu yang dinilai sangat penting bagi orang Indonesia. Bahkan, jejak sejarah menggambarkan betapa orang-orang di Nusantara begitu gemar berpolitik.
Ia menilai, itu pula yang menjadi alasan penguasa-penguasa kita memiliki semacam keharusan menjalin hubungan dengan kekuatan global. Hal itu karena mereka merasa perlu menegaskan atau melegitimasi kekuasaan yang mereka punya agar tidak lemah.
“Kalau misalnya orang Nusantara misalnya Kutai yang masuk Siwa atau masuk Hindu ya tentu dia punya backup India lah. Sriwijaya Mahayana ya tentu dia bersahabat, dapat protect dari Cina, dari India juga. Kenapa kita masuk Islam? Ya tentu, Amerika-nya waktu itu kan Turki Utsmani,” kata Al Makin kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam Perspektif One on One di YouTube Terus Terang Media, Kamis (08/10/2026).
Al Makin turut menyoroti sikap dari Kerajaan Turki Utsmani ketika menapaki kaki ke Nusantara, tapi disebut memiliki kecenderungan dekat dengan Belanda yang saat itu menjajah Nusantara. Ia menilai, sikap sebuah imperium besar memang sangat kompleks.
Artinya, lanjut Al Makin, tentu ketika dia berpihak akan melihat situasi politik di tempat dia berpijak, tidak cukup kesamaan agama. Ia mencontohkan apa yang terjadi di Yogyakarta ketika ada perkawinan antara Pramodhawardhani dan Rakai Pikatan.
“Pramodhawardhani kan jelas Mahayana karena anaknya Samaratungga yang mendirikan Borobudur, sementara Rakai Pikatan adalah Siwa. Nah, dua-duanya walaupun menikah beda agama itu masih tetap meneruskan membangun tempat ibadah atau candi-candi,” ujar Al Makin.
Artinya, ia menerangkan, Pramodhawardhani terus mengembangkan Buddhisme Mahayana, Rakai Pikatan terus membangun tempat-tempat Siwa. Namun, Al Makin menekankan, di satu sisi memang tampak begitu serasi, tapi ternyata di sisi lain tidak begitu.
Ia mengingatkan, sesama Mahayana tentu saja belum tentu damai, sesama Siwa belum tentu damai, bahkan sesama Muslim belum tentu damai. Bahkan, Al Makin berpendapat, konflik di interagama bisa lebih fatal terjadi dibandingkan konflik antaragama.
Artinya, Al Makin menegaskan, orang-orang Nusantara sejak dulu memang pragmatis. Ia menilai, orang-orang kita bisa tidak masalah berbeda iman, malah bisa tidak masalah jika berganti iman, tapi bisa begitu bermasalah ketika sudah tentang politik.
“Kalau sudah urusan politik kita sudah sangat serius dari dulu, dan itu melampaui agama itu politik kita, dan itu mulai dari Mataram. Itu bisa dilacak, bahkan ya di kitab namanya Pararaton, serat Pararaton, jelas bagaimana perilaku para penguasa. Artinya, orang-orang kita itu memang dari dulu ahlinya manuver, melampaui agama,” kata Al Makin.
Al Makin menambahkan, catatan-catatan yang menggambarkan betapa gemarnya orang-orang Nusantara berpolitik turut ditemukan dalam karya-karya populer. Misalnya, Babat Tanah Jawi, Amangkurat I, Amangkurat II, Amanggkurat III, dan lain-lain.
“Itu kalau kita baca manuver semua itu, itu sesuatu yang mengerikan yang dilakukan penguasa, melanggar etika, melanggar hukum, yang pelakunya para sultan, para raja,” ujar Al Makin. (WS05)
