Guru Besar Filsafat UIN Sunan Kalijaga, Prof Al Makin mengatakan, majunya peradaban dari kerajaan-kerajaan di Nusantara memang bukan isapan jempol belaka. Ia memberi contoh, Kerajaan Sriwijaya bahkan menjadi pusat studi agama Buddha di level dunia.
“Ini diperkuat oleh catatan asing, misalnya di Sriwijaya oleh Yi Jing, kemudian Gunadharma, kemudian Majapahit juga catatan-catatan Cina. Ada Marco Polo, Marco Polo juga memperkuat bahwa ada pertarungan internal, dan Amangkurat ini kan di catatan Belanda banyak,” kata Al Makin kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Perspektif One on One di YouTube Terus Terang Media, Kamis (08/10/2026).
Ia menyampaikan, bangsa Nusantara sebelum ada Indonesia memang sudah sangat dekat dengan filsafat Weda, filsafat Mahayana, dan lain-lain. Bahkan, Al Makin menyebut, Kerajaan Sriwijaya dalam catatan-catatan Yi Jing sudah tergambar begitu luar biasa.
“Saya kira kita sudah lupa atau memang sejarah ini memang berputar ya, yang namanya Sriwijaya dalam catatan Yi Jing dan catatan yang lain-lain itu luar biasa, sebagai pusat Mahayana. Jadi, para pendeta, para biksu, atau para bante kalau dalam bahasa Theravada ini datang dari Korea, dari Cina, dari India untuk belajar di Sriwijaya,” ujar Al Makin.
Ia menekankan, catatan-catatan itu menggambarkan bagaimana Sriwijaya memang menjadi pusat studi Buddha dalam level dunia. Selain itu, tercatat ada aktivitas-aktivitas seperti menerjemahkan naskah-naskah Sanskerta ke dalam Bahasa Cina atau sebaliknya.
Al Makin menyayangkan, sejarah seperti itu malah dapat ditemukan dalam catatan-catatan asing. Padahal, ia menyampaikan, saking besarnya Sriwijaya ada semacam adagium yang menyebut pentingnya ke Sriwijaya ketika ingin mendalami Buddhisme.
“Dan itu dicatat, salah satunya adalah catatan Yi Jing, itu mencatat. Salah satu rekomendasinya waktu itu adalah sebelum Anda belajar kenal, Anda tinggallah di Sriwijaya barang 2, 3, 4 tahun. Inilah yang kita lupakan bahwa bangsa ini kalau ingin berfilsafah tidak dari nol, kita punya modal sebetulnya yang kita lupakan,” kata Al Makin.
Sekali lagi, ia menyayangkan, catatan-catatan tentang Sriwijaya, Mataram Medang, dan kerajaan-kerajaan lain belum terjangkau di era kemerdekaan. Al Makin melihat, di era kemerdekaan, termasuk Muhammad Yamin, kembalinya hanya ke era Majapahit.
Kembalinya, lanjut Al Makin, hanya ke karya-karya sastra seperti Sutasumoa atau Desawarnana, seolah itu sumber dari segala sumber kenegaraan atau kebudayaan kita. Ia berpendapat, cakupan hitoriografi yang ada sebenarnya masih kurang terlalu jauh.
“Muaro Jambi, Jambi konon sebagai kekuatan terakhir, atau mungkin Jambi itu tempat belajarnya, universitasnya, pesantrennya. Jika kita dulu seperti itu, sudah sampai level itu, ini kan refleksi, kenapa sekarang tidak belajar filsafat, atau filsafat dimusui, atau tepatnya buku dimusuhi, atau tidak ada manfaatnya jadi orang pintar,” ujar Al Makin.
Ia menambahkan, kita perlu memberikan dukungan untuk orang-orang berpikir, mereka bisa meneliti dan mengembangkan ilmu, termasuk filfasat yang harus diberi semacam payung. Contohnya, dukungan kepada Mpu Tanular atau Mpu Prapanca di era Majapahit.
Hal itu yang membuat dalam karya-karya seperti Sutasoma atau Desawarnana pasti ada ungkapan terima kasih kepada penguasa-penguasa saat itu. Bagi Al Makin, itu penting dilakukan jika memang ada keinginan dari penguasa-penguasa membesarkan Indonesia.
“Kita harus memberi jaminan bahwa ilmu ini bisa berkembang, penelitian ini bisa dibahas, hanya jika ingin besar. Tapi, kan kalau kita besar kan ya yang tidak besar kan akan ditinggal, tidak jadi penting lagi orang-orang itu. Nanti tambah pintar tambah bahaya, nanti tambah protes ke saya kalau ini orang-orang ini pintar. Di dalam Islam para khalifah ini kan memberikan, memfasilitasi, kayak Baitul Hikmah,” kata Al Makin. (WS05)
