Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, mengucapkan selamat kepada Jenderal Suyudi Ario Seto yang kini mengemban amanah sebagai Kapolri. Ia mengatakan, masuknya Suyudi menggantikan Listyo Sigit Prabowo lagi-lagi membuktikan perubahan pasti terjadi.
“Dan Anda menjadi salah satu dari simbol perubahan itu. Mungkin ada beberapa catatan untuk Pak Suyudi, tapi inilah saatnya memulai untuk menunjukkan jati diri bahwa Anda adalah Kapolri, sebagai alat negara, dan orang-orang Polri sendiri, baik yang purnawirawan maupun yang aktif, itu sebenarnya sangat ingin agar Polri ini tidak menjadi Parcok (Partai Cokelat), jadilah Polri,” kata Mahfud saat menjadi narasumber dalam podcast Madilog di YouTube Forum Keadilan TV, Rabu (07/10/2026).
Ia menilai, jika Suyudi mampu mengembalikan Polri sebagai Polri, tidak lagi Parcok, niscaya dirinya akan mendapatkan dukungan dari seluruh rakyat Indonesia. Apalagi, Mahfud melihat, selama ini Suyudi sudah memiliki rekam jejak yang cukup bagus.
“Anda akan didukung oleh semuanya karena jejak Anda cukup bagus, Anda cukup bagus dan cemerlang ya, sudah bintang 3 dalam usia 53. Ya, selamat lah,” ujar Mahfud.
Mahfud berpendapat, Suyudi sudah melakukan semacam pembersihan ketika memulai langkahnya sebagai Kapolri. Salah satu buktinuya, orang-orang Listyo langsung dipindahkan atau diperbantukan ke Kantor Staf Presiden (KSP) mengikuti Listyo.
Bahkan, Mahfud menyebut, tempat-tempat atau posisi-posisi yang masuk ke kategori ‘basah’ sudah diganti dan diisi dengan orang-orang yang lebih profesional. Tapi, ia mengingatkan, Suyudi jangan sampai mengulangi apa yang orang keluhkan dari Listyo.
“Saya ingatkan, jangan melakukan hal yang sama seperti yang dikeluhkan banyak orang telah dilakukan Pak Listyo, yaitu menyingkirkan orang-orang baik. Biasanya dibuang ke Lemdiklat, orang-orang yang hebat disuruh jadi pemikir di sana, tidak diberi job apapun, tidak diberi peluang apapun karena dianggap tidak setuju kebijakan Listyo,” kata Mahfud.
Mahfud mengusulkan Suyudi menggunakan filsafat Sun Tzu, orang akan lebih setia jika mereka berasal dari lawan, lalu dijadikan anak buah. Hal itu karena ada dorongan bagi mereka untuk menunjukkan dirinya lebih baik atau lebih setia ke tuan barunya.
Bagi Mahfud, langkah yang diambil Suyudi sudah cukup bagus meminggirkan orang-orang itu, diganti ke orang-orang yang lebih profesional. Meski begitu, ia menyarankan ke Suyudi tidak membuang orang-orang hebat karena mungkin berbeda pendapat dengannya.
“Jangan sampai membuang orang-orang yang hebat hanya karena dulu, karena secara struktural ikut kebijakan Pak Listyo. Karena, politi ya gitu, Satya Haprabu bisa dimaknai secara politis oleh Kapolri seperti itu. Itu mungkin bagian dari pikiran saya tadi, tidak semua disingkirkan, yang masih punya bakat-bakat untuk baik dan tidak punya track record lain, mungkin kecuali track record-nya dicatat dalam kasus Parcok tapi dalam kasus lain relatif oke, mungkin masih dipakai,” ujar Mahfud.
Kepada masyarakat yang tidak suka Polri di bawah Listyo, ia merasa, jangan pula berharap perubahan 100 persen terjadi dalam waktu dekat. Tapi, Mahfud menekankan, yang penting Polri sudah masuk unsur kebaruan yang salah satu unsurnya Suyudi.
Mahfud menambahkan, Suyudi memiliki tugas berat melakukan penyegaran agar Polri tidak lagi menjadi Parcok. Ia menegaskan, tetap memberi dukungan kepada Presiden sangat bisa dilakukan Polri secara profesional, tanpa harus masuk menjadi Parcok.
“Karena bagaimanapun Polri itu alat negara, negara itu kepalanya adalah Presiden, pantas dong mendukung semua kebijakan Presiden, tapi melalui dialog-dialog terbuka, jangan kasar bertindak di masyarakat lalu tidak tanggung jawab ke publik. Tapi, kita tentu tidak bisa berharap dalam waktu dekat lalu semuanya selesai. Kita beri dukungan kepada Pak Suyudi, bukan karena Pak Suyudi hebat, pro kita, tapi pembaruan itu harus dimulai dan Suyudi ini salah satu kunci untuk memulai perubahan itu, kita dukung,” kata Mahfud. (WS05)
