Batal di 2019 dan Kalah di 2024, Kok Mahfud MD Santai Saja Jalani Hidup?

(tangkapan layar) Pakar hukum tata negara, Mahfud MD (kanan), dalam Talk of Life bersama Sammy Notaslimboy (tengah) dan Rindra Danandara (kiri), Minggu (13/09/2026). Foto: Wahyu Suryana
(tangkapan layar) Pakar hukum tata negara, Mahfud MD (kanan), dalam Talk of Life bersama Sammy Notaslimboy (tengah) dan Rindra Danandara (kiri), Minggu (13/09/2026). Foto: Wahyu Suryana

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, mengungkapkan alasannya mudah menghadapi masa-masa sulit. Misalnya, setelah batal menjadi cawapres Joko Widodo di Pilpres 2019 atau setelah kalah dalam kontestasi Pilpres 2024 saat mendampingi Ganjar Pranowo.

“Saya menerima, kalau kecewa itu pasti, orang ikut kontestasi ketika tahu saat-saat pertama itu ya kecewa dong, itu bohong kalau bilang tidak kecewa, manusiawi. Tapi, tidak berlama-lama saya, inilah politik, selalu terjadi seperti itu,” kata Mahfud saat menjadi narasumber dalam podcast Talk of Life bersama komika Sammy Notaslimboy dan komika Rindra Danandara, di YouTube Sammy Notaslimbyo, Minggu (13/08/2026).

Lagipula, ia berpendapat, sejak dulu ketika kondisi sebuah negara seperti ini dan semakin berakumulasi, pada akhirnya akan menimbulkan keruntuhan. Uniknya, Mahfud merasa tidak perlu merasa sedih karena sebenarnya tidak pula kehilangan apa-apa.

“Saya berpikir itu saya tidak kehilangan apa-apa juga, saya dulu tidak ingin mencalonkan diri kan, dan lebih sakit ketika Pak Harto jatuh sesudah berkuasa 32 tahun dijatuhkan, Bung Karno berkuasa 20 tahun lebih dijatuhkan, saya tidak pernah naik, tidak pernah jatuh, saya begitu saja, saya tidak kehilangan apa-apa,” ujar Mahfud.

Pun untuk 2029, ia menekankan, sampai saat ini tidak ada rencana-rencana politik karena sejak dulu tidak pernah melakukan itu. Mahfud mengaku tidak pernah pula berusaha atau berstrategi melakukan persiapan agar dipilih atau diperhitungkan.

Termasuk, lanjut Mahfud, ketika dirinya diberikan amanah sebagai Menkopolhukam, dirinya diminta langsung oleh Presiden Jokowi tanpa pernah melakukan manuver-manuver politik. Mahfud dengan santai pula menceritakan kisah-kisah tersebut.

“Yang sebelumnya, yang tahun 2019 juga diminta diminta resmi dan Pak Jokowi yang bilang ke saya, ketika 2 hari sebelumnya saya ditentir oleh Pak Pratikno, nanti hari ini pakai ini, pakai ini, Pak Mahfud pakai sepeda dengan Pak Jokowi, kemudian Si Teten (Masduki) ini Pak Mahfud begitu diumumkan ini tanggapannya ke publik, Si Pramono Anung Seskab-nya bilang Pak Mahfud ini Pak Jokowi buat pidato pengumuman Pak Mahfud namanya Muhammaf Mahfud atau M Mahfud, MD itu apa, sudah sedetail itu,” kata Mahfud.

Selain itu, ia mengungkapkan apa yang disampaikan Jokowi soal batalnya Mahfud menjadi cawapres. Saat itu, Jokowi mengakui kalau memang dirinya yang menyuruh Pratikno, Teten, dan Pramono untuk menghubungi Mahfud dan mempersiapkan semua.

Namun, ketua-ketua partai pendukung ternyata tidak menerima nama Mahfud yang dipilih untuk mendampingi Jokowi. Mahfud sempat pula mendengar kalau ketua-ketua partai itu takut Mahfud menjadi semacam ‘monster’ yang susah mereke kendalikan.

“Saya itu juga dengar Pak, jadi yang saya ini versi yang saya dengar karena takut Bapak, takut mereka itu menciptakan monster baru, ya saya dengar begitu, ya artinya takutnya Bapak itu jadi monster kekuatan baru yang tidak bisa mereka kendalikan di 2024,” ujar Sammy, yang disambut Mahfud ternyata juga pernah mendengar kabar itu.

Meski begitu, Mahfud malah merasa, tidak apa-apa kalau ketua-ketua partai kala itu tidak menginginkannya maju dalam kontestasi Pilpres 2019. Ia merasa, itu sekadar realitas politik yang tidak bisa dihalangi dan legowo saja menerima kenyataan itu.

Bahkan, Mahfud menolak menyampaikan itu ke berbagai media karena mungkin malah akan membuat kericuhan. Mahfud turut mengonfirmasi kabar yang menyebut salah satu alasan Jokowi memilih karena jadi satu-satunya menteri yang tidak pernah masuk daftar KPK.

“Ya, saya diberitahu katanya Pak Jokowi memanggil beberapa orang, termasuk Ketua KPK, ini Pak Mahfud tidak ada. Oleh sebab itu, Pak Jokowi pernah bilang juga, ini Pak Mahfud sudah pilihan saya, ini data surveinya juga ini Pak Mahfud yang paling cocok dan juga laporan KPK bersih, sehingga menyuruh Pak Pratikno menghubungi saya,” kata Mahfud. (WS05)