Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, menyampaikan pesan mendalam lewat Solilokui Kemerdekaan dalam rangka HUT RI ke-81. Sebagai orang Islam dan produk pendidikan pesantren, ia melihat, banyak kemajuan yang sudah dialami umat Islam di Indonesia.
“Umat Islam yang dulu dianggap bodoh, kaum sarungan yang terbelakang dan jorok, duafa, beribadah di tempat kumuh dan terlalu mewah untuk naik haji karena tidak mampu sekarang ini sesudah Indonesia merdeka malah harus antri sampai puluhan tahun karena terlalu banyak orang yang mau berangkat dan mampu untuk naik haji, malah jumlah yang ingin naik haji jauh melebihi kuota yang ditentukan,” kata Mahfud dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Rabu (19/08/2026).
Artinya, ia menuturkan, umat Islam sudah maju secara ekonomi, secara nyata, karena Indonesia merdeka. Padahal, dulu sangat sulit naik haji karena tidak memiliki uang sampai banyak yang harus dibantu yayasan-yayasan sampai mencicil puluhan tahun.
“Sekarang, orang sudah banyak uang, sudah antri ada yang sampai 30 tahun. Saya juga mencatat umat Islam sekarang ini di Indonesia sudah mempunyai puluhan universitas negeri yang berkualitas, UIN. Lulusan ponpes dan madrasah yang dulu didiskriminasi dan dianggap kumuh, sekarang sudah banyak yang jadi pejabat penting di legislatif, di eksekutif, di yudikatif, dan di rumpun-rumpun pemerintahan lain,” ujar Mahfud.
Kini, lulusan madrasah dan ponpes yang di zaman Belanda jadi orang pinggiran, tidak boleh ikut pemerintahan, tidak boleh ikut pendidikan modern, sudah bisa masuk ke berbagai rumpun pemerintahan. Mahfud merasa, itu merupakan salah satu nikmat Tuhan.
Mahfud menekankan, tidak ada pula Islamofobia yang pernah menyelimuti Indonesia di zaman penjajahan Belanda. Sebab, Islamofobia berarti kebijakan politk yang anti islam, kebijakan yang diskriminasi terhadap umat Islam karena benci dan takut,
“Sekarang ini karena kemerdekaan umat Islam sudah maju, sudah memimpin pemerintahan negara di berbagai bidang dan berbagai level vertikal-horizontal. Oleh sebab itu, jika ada yang masih mengatakan umat Islam didiskriminasi dan dipinggirkan karena ada Islamofobia di bidang politik berarti yang mendiskriminasi dan meminggirkan, dan melakukan Islamofobia adalah orang-orang Islam sendiri terhadap sesama Islam,” kata Mahfud.
Apalagi, ia mengingatkan, pemimpin-pemimpin komunitas kita sebagian besar memulai langkah lewat sumpah sebagai orang Islam. Karenanya, Mahfud menilai, diskriminasi tidak masuk akal karena umat Islam sudah hidup layak bersama sebagai satu bangsa.
Mahfud menegaskan, semua pemuka agama hidup bersama dalam ikatan kosmopolitanisme Indonesia. Maka itu, ia menekankan, tidak boleh lagi ada tudingan-tudingan seperti kristenisasi, katoliknisasi, atau sasi-sasi lainnya hanya karena aktivitas agama.
“Misal, melihat orang Kristen pergi ke desa membangun gereja dan membagi sembako, atau orang Katolik mendirikan gereja mengadakan pertemuan atau membagi sembako di desa-desa, lalu dibilang Katoliknisasi atau Kristenisasi, itu sesat. Sebab, umat Islam sendiri sangat rajin membangun masjid, sangat rajin mengadakan pengajian, majelis taklim, dan sangat meriah, tidak ada yang mempersoalkan,” ujar Mahfud.
Sebab, ia menambahkan, itu merupakan hak orang beragama membagi-bagi sedekah dan zakat dalam bentuk sembako dan lain-lain. Itu sering dilakukan umat Islam dan tidak boleh ketika pemeluk agama-agama lain mengadakan kita tuding sebagai Kristenisasi.
Jika begitu, umat Islam berarti sering melakukan Islamisasi atas nama dakwah atau membangun masyarakat Islami sebagai rahmatan lil alamin. Mahfud menyebut, kemajuan-kemajuan tentang inklusifisme berbangsa dan bernegara harus senantiasa dijaga.
“Kenapa orang lain tidak boleh boleh? Oleh sebab itu, mari kita bersatu, tidak ada orang yang menuding bahwa orang lain sedang melakukan ekspansi agama dengan memaksa orang lain, tidak ada. Sekarang, ini semua sudah berjalan normal dan lancar. Jadi, mari kita bersatu dalam kalimatun sawa, tujuan yang sama untuk Indonesia, tidak usah saling curiga dengan fobi-fobian antar pemeluk agama, antar etnis, antar kultur. Itu renungan tentang Indonesia yang sudah maju karena berkat kemerdekaan,” kata Mahfud. (WS05)
