Selain Wangsit, Komika Ini Kagumi Kemampuan Presiden Prabowo Komunikasi ke Semut dan Nyamuk

Komika, Rindra Danantara (kanan), dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (06/08/2026). Foto: Wahyu Suryana
Komika, Rindra Danantara (kanan), dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (06/08/2026). Foto: Wahyu Suryana

Komika dan Menteri Kegelapan di Kabinet Bayangin, Rindra Danantara, membela lokasi-lokasi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang banyak disorot masyarakat. Salah satunya berada di titik-titik ketinggian yang jauh dari permukiman publik.

Rindra merasa, mungkin lokasi-lokasi itu dipilih dalam rangka mengasah sportivitas pelanggan. Selain itu, ia berpendapat, itu masih ada kaitannya dengan kemampuan Presiden Prabowo berbicara dengan binatang, sesuai informasi salah satu ajudannya.

“Salah satu ajudannya Pak Prabowo itu mengatakan kalau beliau itu bisa berbicara dengan binatang, ada beritanya nanti di-search. Jadi, beritanya mengatakan kalau waktu itu Pak Prabowo katanya bisa berbicara dengan semut dan nyamuk, ini berita benar, saya tidak mengada-ngada, saya bicara berdasarkan data,” kata Rindra kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Poker di YouTube Terus Terang Media, Kamis (06/08/2026).

Dalam berita yang beredar di medio April 2019, salah satu asisten pribadi (aspri) Prabowo, Rizky Irmansyah menyatakan, kejadian itu dilihatnya ketika Prabowo hendak makan salmon. Namun, salmon yang ada di meja makan ternyata dikerubungi semut.

“Pak Prabowo alih-alih mengusir semut tersebut, dia ngomong dengan semutnya. Hey, semut-semut, saya mau makan, pergi semutnya berdasarkan kisah tersebut, saya hanya mengutip. Habis itu yang nyamuk di Hambalang, beliau mau rapat, banyak nyamuk, sama juga, hey nyamuk-nyamuk saya mau meeting, pergi nyamuknya, ke Paris berkali-kali,” ujar Rindra.

Rindra turut merespons cerita Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, yang menyebut kalau sumber ide dari KDKMP tidak lain berasal dari wangsit yang diterima Presiden Prabowo. Ia menekankan, pemikir-pemikir besar sudah umum menerima wangsit serupa.

“Saya rasa tuh kalau para pemikir besar itu umum lahir dari wangsit kan, Immanuel Kant, Karl Marx. Apalagi, beliau tuh, Karl Marx punya Das Kapital, dia punya Ndas Kapital. Dia sebenarnya memang seorang pemikir juga beliau itu, sosialis beliau,” kata Rindra.

Pada kesempatan itu, Rindra turut membela penyataan-pernyataan Presiden Prabowo yang menuai kontroversi. Salah satunya julukan Londo Ireng yang disematkan Presiden Prabowo kepada pihak-pihak yang suka mengkritik apa yang dikerjakannya selama ini.

Rindra menduga, sebenarnya Presiden Prabowo hanya teringat Ayahnya yang memang pernah menjadi Londo Ireng ketika zaman Soekarno. Artinya, Presiden Prabowo sekadar bernostalgia dan seharusnya tidak perlu ditanggapi terlalu negatif julukan itu.

“Jadi, dia itu sedang nostalgia. Jadi, sebenarnya Londo Ireng kan jangan dianggap terlalu bagaimana-bagaimana banget, ada saatnya kita menjadi Londo Ireng. Semua Londo Ireng itu pasti ada di kita, tanpa kita jadi Londo Ireng kita tidak merdeka,” ujar Rindra.

Selain itu, Rindra menyayangkan pernyataan 10 + 6 = 17 yang disampaikan Presiden Prabowo malah menuai pro dan kontra. Hal itu disampaikan Presiden Prabowo dalam Musyawarah Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Lampung.

Rindra menegaskan, saat itu Presiden Prabowo memang tidak sedang menggunakan satu logika berpikir dalam disiplin ilmu matematika. Ia berharap, ke depan masyarakat luas bisa lebih terbuka ketika mendengarkan pernyataan-pernyataan Presiden Prabowo.

“Orang itu tidak sadar beliau tidak sedang menggunakan logika matematika, beliau ketika 10 tambah 6 sama dengan 17 beliau sedang menggunakan logika fisika kuantum, di mana 1 tambah 1 belum tentu 2, orang juga tidak terlalu paham saja sebenarnya,” kata Rindra. (WS05)