Menteri Ini Yakin Indonesia Emas Tercapai di 2045, tapi Hijriah

Komika, Rindra Danantara, dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (06/08/2026). Foto: Wahyu Suryana
Komika, Rindra Danantara, dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (06/08/2026). Foto: Wahyu Suryana

Komika yang merupakan Menteri Kegelapan di Kabinet Bayangin, Rindra Danantara, meyakini Indonesia Emas yang dicita-citakan banyak orang akan tercapai di 2045. Namun, ia menekankan, 2045 yang dimaksud bukan hitungan Masehi, tapi Hijriah.

“Kami itu sebenarnya percaya betul dengan Indonesia Emas 2045, tapi Hijriah,” kata Rindra kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (06/08/2026).

Ia berpendapat, Indonesia bisa masuk ke era keemasan setelah terlebih dulu masuk ke era kegelapan. Selayaknya Renaissance yang menjadi masa peralihan Eropa, Rindra mengingatkan, Golden Age tidak datang tiba-tiba melainkan diawali Dark Age.

Untuk Indonesia, ia menerangkan, Kementerian Kegelapan sendiri terbentuk sejak Gibran Rakabuming Raka dinyatakan boleh mencalonkan diri sebagai Cawapres. Padahal, menabrak aturan-aturan yang ada, bahkan dibuatkan aturan sendiri yang membolehkan.

“Ya tiba-tiba muncul seorang sosok kegelapan yang bisa menggetarkan MK kan, yaitu Almas Tsaqibbiru (mahasiswa Surakarta yang menggugat batas usia capres-cawapres), itu kan tiba-tiba dia muncul terus pergi kan, luar biasa, saya tidak tahu dia di mana sekarang. Dia adalah sosok kegelapan yang mungkin orang-orang lain juga tidak sangka, tidak menyana dia yang bisa menggetarkan MK itu. Hukum Indonesia itu benar-benar bergetar karena seorang Almas Tsaqibbiru, bukan yang lain,” ujar Rindra.

Dari sana, Rindra dan teman-teman merasa harus ada kelompok yang bisa membantu menavigasi Indonesia di era kegelapan itu, yaitu Kementerian Kegelapan. Sebab, jika sekadar membuat kesalahan Indonesia sudah cukup sering melakukan itu sebelumnya.

“Kalau ‘learning from the mistakes’ sih kita ‘mistake’ sudah melakukan sebenarnya, tapi maksudnya ini kayak semakin mempertegas. Jadi, memang ada ibaratnya, kasarnya, ada penderitaan bersama yang di mana kita pada saat itu kita sadar, oh kita saling membutuhkan nih sebagai warga negara hanya warga yang bisa membantu warga lainnya karena pemerintahnya sendiri mungkin tidak bisa diandalkan,” kata Rindra.

Ia menjelaskan, navigasi yang dilakukan Kementerian Kegelapan salah satunya dengan menjelaskan pernyataan-pernyataan atau kebijakan-kebijakan Presiden Prabowo. Sebab, Rindra melihat, banyak warga yang masih salah paham ke program-program Presiden.

Misalnya, lanjut Rindra, banyaknya kasus keracunan yang diakibatkan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia sering menyampaikan, ini terkait dengan perwujudan dari salah satu janji kampanye yang diucapkan Presiden Prabowo melahirkan 10.000 dokter.

“Waktu itu Pak Prabowo ketika sedang kampanye, beliau selain MBG, Makan Bergizi Gratis, dia itu juga mencanangkan sebuah program yaitu 10.000 dokter. Nah, dikasih pasiennya dulu 10.000 dokternya dari keracunan itu. Kalau 10.000 dokter tidak ada pasiennya, ngapain 10.000 dokternya? Masa ke sawah seperti TNI? Kan tidak seperti itu, kan sayang, harus ada pasiennya, deman-nya diciptakan dulu baru supply-nya,” ujar Rindra.

Ia menilai, konsep itu turut dicanangkan dalam program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Rindra mengaku heran program itu menuai banyak kontroversi di kalangan masyarakat, sedangkan program KDKMP merupakan mitigasi yang bagus.

Termasuk, Rindra menyampaikan, ketika misalnya Indonesia kembali mengalami situasi kerusuhan. Ia menambahkan, ketika kerushan seperti 1998 penjarahan-penjarahan yang terjadi selalu bersifat sporadis, terjadi di mana-mana, dan KDKPM hadir untuk itu.

“Nah, kalau ada Kopdes, targetnya sudah jelas penjarahannya ke mana, itu sudah jelas yang ada sembako di mana, yang ada kipas 11 juta itu di mana, sudah jelas,” kata Rindra. (WS05)