Presiden Prabowo Diharap Mengurangi Guyonan-Guyonan yang Cenderung Meremehkan Situasi

Intelektual, Hamid Basyaib, dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (02/08/2026). Foto: Wahyu Suryana
Intelektual, Hamid Basyaib, dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (02/08/2026). Foto: Wahyu Suryana

Intelektual, Hamid Basyaib, mengkritisi pidato Presiden Prabowo yang sering jauh dari substansi yang ingin disampaikan. Ia menilai, di tengah situasi yang sedang dirasakan masyarakat, mimbar-mimbar itu harus bisa diperlakukan lebih elegan.

“Kita berharap, itu dikurangi kalau tidak bisa dihentikan sama sekali, guyonan-guyonan yang seperti saya bilang tadi cenderung meremehkan keseriusan situasi. Masalahnya, itu bukan soal sopan atau tidak, pantas atau tidak, tapi apa sebetulnya pesan yang mau disampaikan,” kata Hamid kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (02/08/2026).

Ia mencontohkan, pidato soal trickle down effect yang dikiritk Presiden Prabowo tanpa ditawarkan teori alternatif yang kira-kira bisa dijadikan pegangan publik. Apalagi, Hamid mengingatkan, konsep itu dijalankan eks mertua Prabowo, Soeharto.

Hamid menilai, Presiden Prabowo bisa menyebutkan apa saja masalah yang dihadapi sampai konsep itu tidak benar-benar terlaksana dengan baik di Indonesia. Sebab, bisa saja konsep itu sebenarnya tidak terjadi karena tidak diterapkan konsisten.

Misalnya, di tengah jalan ada banyak distorsi yang tidak diinginkan pencetus teorinya sendiri, Rostow. Sehingga, sebagai pemimpin negara, Presiden Prabowo tidak tampak buru-buru menyalahkan teorinya, tanpa mengupas seperti apa pelaksanaannya.

“Itu yang tidak dilakukan oleh Presiden Prabowo. Nah, pertanyaannya kemudian apa dampaknya terhadap kewibawaan seorang Presiden dan lebih penting lagi terhadap kualitas diskursus publik. Dengan pidato-pidato semacam itu apa yang bisa dibahas oleh para mahasiswa, oleh orang awam, oleh para akademisi, hampir-hampir tidak ada. Kecuali, aspek-aspek guyonan itu yang jika bukan Presiden yang mengemukakannya pasti dengan mudah kita bisa bilang bahwa guyonannya pun garing,” ujar Hamid.

Ia menekankan, Presiden Prabowo benar-benar berperan presidensial sesuai kewibawaan kenegaraan sebagai pejabat tertinggi dan paling penting di negeri ini. Tapi, sikap sebaliknya malah terlihat dari cara Presiden Prabowo menanggapi hal-hal serius.

Hamid menyarankan, Presiden Prabowo mengubah strategi komunikasi dan muncul sebagai tokoh yang menyenangkan, yang ramah, yang tidak terkesan garang dan galak seperti di masa lalu. Itu perlu dilakukan tanpa tergelincir hal-hal yang bagi dia lucu.

“Saya kira sudah cukup lah satu setengah tahun ini dan selanjutnya kita berharap lebih serius berpidato dan kita berharap betul bahwa forum podium Presiden Republik Indonesia itu bisa beliau manfaatkan dengan bijaksana dan dengan cemerlang. Kita tahu bahwa pernyataan seorang Presiden itu sama sekali bukan sekadar pernyataan. Pernyataan seorang Presiden itu bisa punya makna yang jauh dan dalam sekali bagi rakyat untuk keperluan yang baik maupun untuk yang buruk,” kata Hamid.

Dalam situasi yang buruk seperti ini, ia berpendapat, penting seorang Presiden Prabowo bisa mengakui terlebih dulu apa yang terjadi. Sambil, lanjut Hamid, menyampaikan kalau tantangan ini bukan 1 atau 2 kali dihadapi bangsa Indonesia.

Ia berharap, Presiden Prabowo bisa memperhatikan itu bahwa dengan segala macam kesulitan, kita sebagai bangsa tetap kuat, solid, bersatu, satu tujuan, satu tekad. Semua itu dirasa lebih penting disampaikan Presiden Prabowo dalam pidatonya.

“Nah, mudah-mudahan Pak Prabowo mendengar pesan ini dan tidak ada hal yang selain untuk kebaikan kita sampaikan ini, dan mudah-mudahan Presiden Prabowo Subianto yang terhormat mendengar dan memperhatikan pesan-pesan semacam ini yang tentunya bukan hanya disampaikan oleh diri saya seorang. Ada banyak yang mengemukakan dengan cara masing-masing dan mulai banyak keluhan terlalu sering dan terlalu bisa dibilang dangkalnya Presiden kita melontarkan goyonan-goyonan semacam itu,” ujar Hamid. (WS05)