Islah Bahrawi: MBG dan Kopdes Merah Putih Tidak Boleh Dikelola Secara Diktator

Tokoh Madura, Islah Bahrawi, dalam program Berani di YouTube Terus Terang Media, Minggu (26/07/2026). Foto: Wahyu Suryana
Tokoh Madura, Islah Bahrawi, dalam program Berani di YouTube Terus Terang Media, Minggu (26/07/2026). Foto: Wahyu Suryana

Tokoh Madura, Islah Bahrawi, mengkritisi pemerintah yang bertahan dengan ambisinya menjalankan Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Padahal, ia menilai, mimpi pemerintah seharusnya perbaikan untuk rakyat.

Artinya, Islah menekankan, jangan sampai mimpi pemerintah malah untuk memapankan kekuasaan dengan menjalankan ambisinya. Hal ini yang dirasa harus digugat karena negara bukan dimiliki pemerintah, tapi dimiliki seluruh tumpah darah Indonesia.

“Maka, program seperti Makanan Bergizi Gratis atau juga Kopdes tidak boleh dikelola secara diktator, secara sepihak, karena itu adalah uang kita, dan harus kembali kepada kita. Kita tidak boleh berpangku tangan begitu saja,” kata Islah kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Berani di YouTube Terus Terang Media, Minggu (26/07/2026).

Hari ini, Islah melihat, negara betul-betul didominasi oleh berbagai program yang melibatkan militer. Padahal, ini bukan negara junta, ini adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan doktrinal tentara hanya diperlukan untuk pertahanan.

Pun doktrinal polisi yang hanya diperlukan untuk keamanan, dan doktrinal-doktrinal instansi penegak hukum lain. Bagi Islah, check and balances hanya akan ada ketika rakyat bersuara karena lembaga-lembaga sudah dimandulkan oleh kepentingan politik.

“Berbagai lembaga sudah dimandulkan paksa oleh kepentingan-kepentingan politik dan jilatan-jilatan demi barter dengan kenyamanan-kenyamanan posisi dalam ruang politik kita. Oleh karena itu, saudara-saudaraku, jangan pernah berhenti untuk berbicara,” ujar Islah.

Islah menyebut, apa yang disampaikannya tidak hanya mewakili aspirasi diri sendiri, tapi aspirasi mereka yang ingin bicara, tapi ruang penyampaiannya terintimidasi. Karenanya, walau sudah banyak dilaporkan, ia mengaku tidak akan berhenti bersuara.

Selain itu, lanjut Islah, dirinya sudah dikuntit, diintai oleh oknum-oknum yang seharusnya menjaganya sebagai rakyat. Ia meyakini, itu dilakukan agar dirinya berhenti bicara, berhenti menyampaikan aspirasi yang dikeluhkan masyarakat.

“Saya tidak ingin meminta belas kasihan dari saudara-saudaraku sesama rakyat Indonesia, tapi setidaknya mari kita bersuara. Mari kita biarkan alam pikiran kita untuk kemaslahatan bersama dan jangan pernah takut untuk meminta hak-hak kita. Karena apa? Karena kita sudah terlalu lama diperas untuk menunaikan kewajibannya,” kata Islah.

Terkait MBG dan Kopdes, ia mengajak segenap anak bangsa untuk terus menyuarakan dan meminta pemerintah meninjau ulang pelaksanaannya selama ini. Jika memang tidak bisa, Islah menyarankan, hentikan saja sekalian program MBG maupun Kopdes itu.

Kembalikan uang-uang rakyat yang seharusnya diterima rakyat kepada pola yang sebelumnya sudah ada. Bagi Islah, itu jauh lebih baik daripada terus memaksakan ketidaksanggupan pemerintah mengelola dan menambal kebocoran-kebocoran anggaran.

“Mending hentikan saja. Karena, bagaimanapun, berbagai program itu tidak akan pernah bisa memuaskan rakyat semua. Tapi, saya yakin program MBG ataupun Koperasi Desa Merah Putih ini, sepanjang tata kelolanya benar, insya Allah semua rakyat Indonesia akan merasa maslahatnya dan merasakan berbagai kebaikannya,” ujar Islah. (WS05)