Tokoh Madura, Islah Bahrawi melihat, Indonesia mengalami gempa karena betul-betul negara ini luluh lantak di tangan politisi dan penegak hukum. Penemuan emas 74 kilo dan uang sekitar setengah triliun dari rumah penegak hukum menjadi bukti nyata.
Banyak anomali terjadi di balik situasi ekonomi yang sudah mengancam masa depan bangsa. Belum lagi berbagai perkara yang harus kita dengar setiap hari, ditambah pernyataan pejabat-pejabat yang tidak konsisten, dari level tinggi sampai rendah.
“Semuanya mempertanyakan mau dibawa ke mana negara ini. Saudaraku semua, marilah kita sadar, membuka cara berpikir kita bahwa negara ini perlu diluruskan setelah bengkoknya pemerintahan yang sudah kita jalani lebih dari 10 tahun ini. Hari ini, kita semua harus sadar bahwa pemerintahan hari ini sebenarnya tidak memiliki arah mata angin, trajektorinya tidak jelas,” kata Islah kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Berani di YouTube Terus Terang Media, Senin (20/07/2026).
Maka itu, ia menekankan, kita tidak boleh diam, kita harus menyuarakan suara orang-orang yang takut untuk bersuara. Islah berpendapat, hari ini kita sudah betul-betul berada dalam satu ruang yang sama sekali tidak memiliki jendeal, pengap, dan sesat.
“Kasus yang terjadi di Kejaksaan adalah rentetan dari berbagai kejahatan-kejahatan yang dinormalisasi untuk kepentingan politik. Kita tahu ini ada pemiliknya, tapi kemudian penyidikan dialihkan ke Kejaksaan Agung. Di situ lah kita harus bertanya bagaimana mungkin mereka harus menyidik kawan-kawannya sendiri,” ujar Islah.
Islah turut menyoroti aksi pengacara, Hotman Paris, yang menggelar konferensi pers untuk seorang tersangka, tapi malah difasilitasi Kejagung. Lucunya, pengacara Don Rito malah menenggelamkan kliennya, dan menyatakan semua barang itu milik Don Rito.
“Ini adalah anomali-anomali dan kelucuan-kelucuan yang harus kita pertanyakan. Ini sebenarnya ingin melindungi siapa? Kemudian, ada intervensi Istana menurut laporan majalah Tempo bahwa pengalihan penyidikan ini kepada Kejaksaan juga atas intervensi Istana. Ada apa dengan Prabowo? Sekali lagi, ada apa dengan Prabowo?” kata Islah.
Sebenarnya, lanjut Islah, masyarakat sempat berprasangka baik ke Presiden Prabowo saat Dadan Hindayana ditersangkakan, dipenjarakan, dan akan disidang atas kasus korupsinya di Badan Gizi Nasional (BGN). Semua merasa ada goodwill dari Prabowo.
Tapi, ia menekankan, dalam kasus di Kejaksaan surut lagi karena ternyata Presiden Prabowo tidak ada beda dari yang lain. Karenanya, ia berpendapat, semua tidak boleh diam melihat keadaan bangsa ini, jangan cuma terkesima atas pidato-pidato Prabowo.
“Kecuali, Pak Prabowo memiliki kesadaran sendiri, membangun kesadaran kognitifnya untuk berkorban bagi rakyatnya, bukan berkorban untuk ambisi kekuasaannya. Saya ingin menyimpulkan kejadian dari Kejaksaan ini pertarungan politik 2029 terlalu prematur ditarik ke tahun ini. Bagaimana logistik-logistik berusaha dikumpulkan untuk pertempuran politik yang masih belum jelas junturungannya,” ujar Islah.
Ia merasa, konstelasi politik yang harus ditata ulang justru mengorbankan rakyat yang hari ini sudah mulai gelisah dengan berbagai kebutuhan-kebutuhan pokok yang tidak tertunaikan. Islah mengaku tidak mau menghasut masyarakat melawan pemerintah.
Tapi, ia menegaskan, semua harus jujur kepada fakta yang terjadi. Karenanya, semua harus pula berusaha menggugah pemerintahan Presiden Prabowo untuk meluruskan lagi trajektori bangsa yang sudah kacau balau, dan itu harus dimulai sesegera mungkin.
“Jika tidak, negara ini akan betul-betul tenggelam dalam keterpurukan, tersungkur dibanding negara-negara tetangga lain yang justru hari ini levelnya sudah semakin meningkat. Kita dibuat miris negara sebesar ini, sekaya ini dengan berbagai sumber daya alam yang melimpah, tapi kita seperti burung yang mati di lumbung padi,” kata Islah. (WS05)
