Penceramah, Ust Das’ad Latif mengatakan, dalam konstitusi Islam sekalipun sudah dicantumkan kewajiban mencintai negara. Ia menilai, masyarakat yang memberi kritik kepada pemimpin sebenarnya jadi salah satu bentuk kecintaan mereka kepada negara.
Namun, ia berpendapat, mengkritik tentu ada tata caranya. Das’ad memberi contoh mengkritik pemimpin selayaknya mengingatkan seorang imam ketika memimpin shalat. Justru, ia menekankan, keliru ketika kita tidak mengingatkan imam yang salah.
“Kalau imam salah kan boleh dikritik, kita ini orang Islam, taat pemimpin tapi tidak loyal mati-mati. Kalau dia ruku, kita ruku, tapi kalau mestinya ruku dia sujud, tidak boleh ikut,” kata Das’ad kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (18/07/2026).
Bagi Das’ad, ketika seorang makmum diam saja mengikuti kesalahan seorang imam, misal demi kesetiaan kepada imamnya, itu malah satu perbuatan taklik. Meski begitu, ia menegaskan, wajib pula bagi seorang makmum menegur dengan cara-cara yang baik.
“Cara tegurnya bukan ditendang kepalanya, imam salah kok, tidak. Caranya, kita puji Allah, subhanallah. Bukan cuma dikatakan subhanallah, tapi diberikan solusi yang orang bahasa akademik katakan, kritik konstruktif. Dia misalnya membaca mutar-mutar, jangan cuma bilang subhanallah, kita lanjut dengan lakum dinukum waliyadin,” ujar Das’ad.
Hal itu merupakan salah satu contoh nyata dari kritik konstruktif, kritik yang juga memberikan solusi. Sebab, Das’ad melihat, banyak orang bisa mudah menunjuk, bahkan anak-anak bisa menunjuk kesalahan, tapi harus ada yang menunjukkan mana yang benar.
“Jadi, saya dakwah itu mengkritik, tapi tetap dengan kita sebagai mubalikh. Saya tidak setuju kalau ada orang menghina, mengkritik pribadi, apalagi depan umum saya tidak cocok. Kita kritik seperti Pak Mahfud katakan kebijakannya yang kita kritik,” kata Das’ad.
Ia mengaku bersyukur, di antara ribuan kritik-kritik yang disampaikannya tidak pernah ada orang yang merasa marah. Hal itu turut dikarenakan kemampuan dirinya melihat situasi, ketika ada yang tampak tersinggung ditutup dengan kelakar lucu.
Misalnya, Das’ad menambahkan, dengan menyebutkan secara langsung jenis-jenis sikap dari penonton setelah menyaksikannya. Ada yang menerima, ada yang tidak menerima atau marah, tapi lalu disampaikan kalau jenis yang kedua tentu tidak ada di situ.
“Kalau dia kata betul ini ustaz tadi, saya yang kena, ini orang beriman ini. Sikap kedua, panggil panitianya, mentang-mentang dia jenderal, panggil panitianya, siapa tadi panggil itu ustaz, lain kali jangna lagi kau panggil, semua dibahas saya terus yang kena. Nah, ini jenis yang mati hati, tapi tidak ada di sini,” ujar Das’ad. (WS05)
