Cerita Pahit Ust Das’ad Latif, Ditinggal di Hutan dan Berjalan 5 Jam di Bawah Hujan

Penceramah, Ustaz Das'ad Latif, saat menjadi tamu dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (18/07/2026). Foto: Wahyu Suryana
Penceramah, Ustaz Das'ad Latif, saat menjadi tamu dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (18/07/2026). Foto: Wahyu Suryana

Siapa tak kenal Ustaz Das’ad Latif. Penceramah berdarah Bugis yang dikenal dengan jargon ‘beleng-beleng’ itu bisa dibilang salah satu da’i paling terkenal hari ini. Namun, di balik popularitasnya, ternyata ada perjalanan pahit yang harus dilalui.

Salah satunya diceritakan saat menjadi tamu dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official. Suatu hari di tengah malam, Das’ad yang diundang ceramah di Kota Palopo dijemput oleh seorang supir membawa kendaraan mobil jenis Land Cruiser.

“Nikmat Allah berikan saya gampang tidur, kalau saya naik mobil langsung saya tidur dan saya tidur, itu mobil Land Cruiser tinggi kan saya di bagian kedua, tidur saya karena malam. Sampailah di Keera, perbatasan Palopo dengan Wajo, itu daerah hutan,” kata Das’ad kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam YouTube Mahfud MD Offical, Sabtu (18/07/2026).

Di tengah perjalanan, Das’ad terbangun karena merasa mobil berhenti. Begitu bangun, ternyata supir sudah di luar sebelah kanan untuk buang air kecil. Perjalanan masih panjang mendorong Das’ad ikut buang air kecil dan ke luar dari pintu sebelah kiri.

“Saya masih kencing, jalan ini mobil, tengah malam jam 1 dini hari di Keera. Saya telfon, baru ingat saya tinggal baju dalam karena tidak mau lecek, jadi saya cuma pakai baju dalam putih itu hujan ringan, tengah malam putih-putih di pinggir jalan. Saya bawa hadang di tengah jalan, dikiranya saya setan nanti ditabrak, bayangkan,” ujar Das’ad.

Akhirnya, terpaksa Das’ad yang hanya mengenakan baju dalaman putih tipis itu jalan menyusuri Kecamatan Keera. Kala itu, ia berpikir, setidaknya kalau pintar supirnya mobil akan kembali lagi ketika masuk waktu Subuh, karena diminta membangunkannya.

“Subuh, dia balik ke belakang, ustaz Subuh, wah hilang Pak Ustaz, baru sadar hilang penumpangnya, baru dia balik. Saya sampai sana jam 6, jam 6 baru dia sampai kembali ambil saya. Saya mau tempeleng, lebih tinggi dari saya. Saya dari jam 1 sampai jam 6, ada anak muda saya kasih singgah pinjam hape, tapi saya tidak tahu hape supir,” kata Das’ad.

Akhirnya, lanjut Das’ad, acara ceramahnya yang semestinya dimulai pukul 08.00 harus ditunda karena keterlambatan itu. Ternyata, deritanya tidak berhenti sampai di situ karena begitu tiba tuan rumah sudah menanyakan alasannya sampai koper tertinggal.

Di situ, Das’ad sadar, supir yang tadi meninggalkannya mungkin mengarang cerita agar tidak dimarahi atasannya. Sehingga, Das’ad harus memberikan penjelasan kepada tuan rumah yang mengundangnya, tidak lain merupakan Wali Kota Palopo, Judas Amir.

“Begitu saya sampai rumah, Pak Wali Kota ke luar, Haji Judas, kenapa bisa kita lupa kopernya, Ustaz? Saya bilang dalam hati, bohong lagi, Pak Wali bukan kopernya lupa, saya yang lupa. Laporannya terlambat dia bilang, kita balik lagi ambil koper ustaz lupa kopernya. Selesai ceramah, mau pulang saya, datang lagi itu tadi. Saya bilang, Pak Wali saya sudah maafkan, tapi jangan lagi dia antar saya jengkel,” ujar Das’ad.

Meski begitu, pengalaman pahit itu memberi pelajaran tersendiri karena ada hikmah yang tampak ingin diberi kepadanya. Bagi Das’ad, selain ada tambahan honor ucapan maaf dari pengundang, dirinya seperti disadarkan kalau memang bukan siapa-siapa.

Das’ad langsung mengaitkan pengalaman pahitnya itu seperti bayangkan di akhirat nanti atau di alam kubur nanti. Sebab, pada akhirnya manusia akan mempertangung jawabkan perbuatannya di dunia sendiri, tanpa ada yang bisa memberi pertolongan.

“Bahwa beginilah nanti kita di akhirat, di kubur. Begitu kita dikubur, menunggu orang saya kasih singgah mobil, tidak ada satupun, beginilah kita nanti dikubur. Kita berharap ada yang doakan kita, ternyata tidak ada,” kata Das’ad. (WS05)