Banyak Aktivis-Akademisi Dilaporkan Bukti Pemerintah Tahu Angka Kepuasan Publik Palsu

Pengamat politik, Ray Rangkuti, dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, (15/05/2026). Foto: Wahyu Suryana
Pengamat politik, Ray Rangkuti, dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, (15/05/2026). Foto: Wahyu Suryana

Sederet aktivis dan akademisi dilaporkan atas kritiknya ke pemerintah mulai Saiful Mujani, Islah Bahrawi, Ubedilah Badrun, sampai Feri Amsari. Pengamat politik, Ray Rangkuti menilai, fenomena itu menunjukkan ketidakpercayaan diri dari pemerintah.

Ray menerangkan, selalu saja dalam politik tidak hanya tingkat nasional, tapi dalam tingkat lokal, suara rakyat tidak melulu mencerminkan dukungan publik. Sebab, data itu bisa didapat karena dorongan lain yang salah satunya bantuan sosial (bansos).

“Apalagi, 2024 lalu kita semua melihat bansos luar biasa, tiba-tiba banyak sekali program yang ditemukan masyarakat. Sehingga, saking banyaknya orang berpikir 3 periode pun oke-oke saja, serta bansosnya dikeluarkan sedemikian rupa,” kata Ray kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam Poker di YouTube Terus Terang Media, Jumat (15/05/2026).

Bagi Ray, sikap itu pula yang ditunjukkan pemerintah atas survei-survei belakangan yang menampilkan tingkat kepuasan publik yang cukup tinggi. Ia menilai, banyaknya akvitis-akademisi yang dilaporkan menandakan ketidakpercayaan diri dari pemerintah.

“Terbukti dengan mereka mencap Saiful Mujani dan Cak Islah sebagai pidato makar. Ini yang tidak masuk akal saya, kalau kalian percaya tingkat kepuasan 74% sesuai hasil survei saya kira Oktober, Januari atau Februari 2026 ini, apa yang membuat mereka resah dengan pidato Cak Islah dengan Saiful Mujani? 74% di belakang saya,” ujar Ray.

Ray berpendapat, tingginya tingkat kepuasan publik jika benar-benar gambaran dari lapangan seharusnya membuat pemerintah sepercaya diri pemerintahan Donald Trump di Amerika Serikat (AS). Yang mana, terlihat ketika terjadi demonstrasi besar di AS.

“Trump ketika didemo 8 juta orang di Amerika dia bilang massa saya lebih banyak dari itu, itu orang yang percaya. Ini tiba-tiba klaimnya 74% saya didukung oleh masyarakat, tingkat kepuasan, tapi pidato seorang profesor yang tidak punya massa mereka ketar-ketir. Artinya apa? Mereka tidak percaya 74% itu betul-betul dukung mereka, mereka sadar betul itu hanya angka hari H, angka ketiga bansos diberikan,” kata Ray.

Menurut Ray, kekhawatiran seperti yang ditampilkan pemerintah semakin menunjukkan angka-angka survei ini memang tidak nyata. Terlihat pula ketika program seperti MBG atau Kopdes Merah Putih dipaksakan, bukan mendulang dukungan tapi banyak kritikan.

“Makanya, dia takut pada pidato seorang profesor yang tidak punya massa. Yang dikatakan Budiman Sujadmiko sebagai orang yang tidak punya tradisi sebagai aktivis, dia tidak punya massa, tidak punya tradisi sebagai aktivis kok takut,” ujar Ray.

Ray menambahkan, kekhawatiran pemerintah itu turut terlihat dengan banyaknya cara-cara intimidatif yang belakangan dilakukan tentara. Ia menyayangkan, seharusnya langkah-langkah kuno seperti itu tidak lagi dilakukan pemerintah pada zaman kini.

“Mereka sekarang tidak paham masa depan mereka ini apa. Kalau mereka tidak paham masa depan mereka apa, apalagi kita rakyat. Makanya, kita juga serba bingung, kita ini mau dibawa ke mana? Kalau mungkin kemarin-kemarin kita banyak kritik, tapi kita mengerti, oke, mungkin kita akan ke sana, ini udah kabur semua juga,” kata Ray. (WS05)