Siswa SD Turut Menjadi Target Love Scam, Sekolah Dituntut Gencarkan Edukasi

Relawan Siaga Cerdas (RSC-WSC), Nurlaila Indriani, dalam program Pojok Keramat di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (04/02/2026). Foto: Wahyu Suryana
Relawan Siaga Cerdas (RSC-WSC), Nurlaila Indriani, dalam program Pojok Keramat di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (04/02/2026). Foto: Wahyu Suryana

Relawan Siaga Cerdas Waspada Scammer Cinta (RSC-WSC), Nurlaila Indriani mengatakan, masyarakat harus lebih waspada menggunakan media sosial. Pertempuan, terutama, juga jangan mudah percaya orang asing ketika ingin menjalin hubungan dengan seseorang.

Ia menilai, masyarakat harus pula memahami kejahatan pindah tempat dan lebih marak di media sosial. Indri menekankan, tanggung jawab memberikan edukasi seperti ini menjadi tugas bersama, termasuk kepada anak-anak SD yang turut dijadikan target.

“Saya berharap pihak sekolah itu sudah mengedukasi kepada murid-muridnya tentang kejahatan melalui dunia maya, termasuk love scam karena kita menyadari bahwa cinta itu kan adalah kebutuhan dasar manusia jadi ya itu harus sudah mulai dikampanyekan harus sudah mulai digalakan,” kata Indri kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Pojok Keramat di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (04/02/2026).

Ia menerangkan, dalam catatan mereka sudah ada anak-anak SD yang menjadi korban modus love scam tersebut. Bahkan, Indri menekankan, anak-anak SD tidak mengalami kerugian materi seperti uang, melainkan menjadi korban eksploitasi secara seksual.

“Yang melapor ke kami orang tuanya, kalau anak SD lebih ke arah dia dieksploitasi,” ujar Indri.

Ia menyampaikan, korban-korban ‘love scam’ memang beragam dan jika dilihat dari latar belakangnya memang banyak yang memiliki pendidikan dan kemampuan finansial yang baik. Artinya, pelaku-pelaku ini memang melakukan riset untuk memilih korban.

“Sebetulnya, untuk korban yang saat ini ya kebanyakannya adalah perempuan-perempuan yang memang cerdas-cerdas, pendidikannya tinggi, jadi bukan orang yang gaptek itu,” kata Indri.

Indri menambahkan, tidak semua orang hari ini paham tentang love scam dan modus-modus yang digunakan untuk menipu korban. Apalagi, ia menekankan, ada permainan psikologis yang digunakan dan sebenarnya itu yang menjadi modus terbesar pelaku.

Sebab, ia meyakini, di dunia hari ini sepertinya tidak mungkin orang-orang terlalu gaptek atau tidak mengenal media sosial. Tapi, Indri merasa, pemahaman soal modus-modus ini masih perlu digencarkan, terutama ketika ingin melakukan transkasi uang.

“Walaupun itu diarahkan, tapi sebetulnya rata-rata korban ini orang-orang yang berpendidikan dan perempuan-perempuan yang memang oke-oke lah,” ujar Indri. (WS05)

Temukan kami di Google News.