Mudah Ditelusuri, Mantan Deputi Gubernur BI Bagi Pengalaman Ungkap Saham Gorengan

Ekonom senior, Halim Alamsyah, dalam program B.E.P di kanal YouTube Terus Terang Media, Senin (02/02/2026). Foto: Wahyu Suryana
Ekonom senior, Halim Alamsyah, dalam program B.E.P di kanal YouTube Terus Terang Media, Senin (02/02/2026). Foto: Wahyu Suryana

Ekonom senior dan mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Halim Alamsyah, membagikan pengalaman mengungkap saham-saham gorengan yang belakangan menjadi perhatian publik Indonesia. Terutama, usai heboh bursa saham usai jatuhnya IHSG.

Saat itu, ia menuturkan, Halim menyelidiki keanehan terkait beberapa transaksi yang terjadi di suatu bank yang relatif kecil. Bahkan, transaksinya terbilang jauh lebih besar dibandingkan dengan total asetnya yang tentu saja menimbulkan kecurigaan.

Kecurigaan sangat kuat karena bank kecil ini kerap memiliki transaksi yang besar pada ujung bulan. Sehingga, Halim curiga ini merupakan bagian dari apa yang disebut ‘kosmetik’ untuk memperbaiki angka, sehingga akhir bulan angka tampak naik tinggi.

“Ini namanya window dressing dalam konteks akuntansi. Saya bilang, ya sudah selidiki saja, dua minggu kemudian mereka datang ke saya mengatakan, Pak ternyata ini transaksinya berasal dari pasar modal,” kata Halim kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program B.E.P di kanal YouTube Terus Terang Media, Senin (02/02/2026).

Halim menekankan, dari melihat itu saja sudah dapat diketahui rekening Si A, Si B, Si C, PT A, PT B, atau PT C yang melakukan itu. Ia menyampaikan, walaupun tidak diketahui transaksi digunakan untuk apa, tapi jelas itu berasal dari pasar modal.

Masalahnya, lanjut Halim, saat itu belum ada lembaga seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Yang ada merupakan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK), dan penyelidikan harus terhenti karena tidak bisa menembus lembaga tersebut.

“Waktu itu masih ada Bapepam LK. Saya tanya, bisa tidak kalian coba tembus itu ke Bapepam LK. Ternyata, Bapepam LK bilang, oh tidak boleh ini rahasia. Jadi, kita berhenti di situ. Nah, sekarang sudah ada OJK, punya otoritas yang sangat kuat,” ujar Halim.

Berdasarkan pengalaman itu, Halim meyakini, selama diketahui nomor rekeningnya sangat mudah menelusuri transaksi-transaksi mencurigakan semacam itu. Apalagi, ia menambahkan, sudah ada Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

Bagi Halim, kesulitan menelusuri tidak berlaku di sektor keuangan, terutama dengan teknologi yang ada. Ia berpendapat, semua itu tergantung kemauan untuk menegakkan hukum yang sebenarnya sangat ditunggu pasar usai mundurnya pejabat-pejabat OJK.

“Saya rasa, kalau saya kenal dengan kawan-kawan di OJK, mereka sangat profesional. Mungkin bukan di wilayah situ saya kira apa yang terjadi, ini mungkin lebih ke arah hal yang lebih tinggi lagi kalau menurut saya. Artinya, kita lihat saja, berbagai kejadian sekarang dengan mundurnya pembina OJK ya mungkin ada tanda-tanda di situ,” kata Halim.

Halim mengaku tidak ingin menghakimi sosok-sosok yang ditunjuk menjadi pengganti mereka yang mundur. Tapi, ia mengenal, orang-orang yang mundur dari OJK merupakan mereka yang memiliki integritas tinggi, bukan yang mencari jabatan-jabatan tinggi.

“Apalagi, beberapa orang saya kenal, bukan tipe orang yang mencari jabatan. Tapi, ini mungkin lebih ke arah tanggung jawab dan juga merasa ya kejadian ini menjadi suatu hal yang tadi disampaikan, mereka sampaikan juga dalam press release-nya ya, ini bagian dari upaya untuk memperbaiki situasi yang ada. Jadi, mereka mundur aja,” ujar Halim. (WS05)