Lewat Pidato Cerdas, Presiden Roosevelt Berhasil Pulihkan Bursa Saham yang Jatuh

Intelektual, Hamid Basyaib, dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (01/02/2026). Foto: Wahyu Suryana
Intelektual, Hamid Basyaib, dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (01/02/2026). Foto: Wahyu Suryana

Bursa saham Indonesia sepekan terakhir heboh dengan jatuhnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sampai 8 persen. Intelektual, Hamid Basyaib mengatakan, kita bisa belajar dari begitu banyak best practice dunia dalam memulihkan kondisi tersebut.

Salah satunya dari kejatuhan bursa saham terbesar dunia yang terjadi di Amerika Serikat (AS) dan dikenal dengan The Great Depression pada periode 1929-1930. Rakyat AS yang tadinya makmur secara umum, bahkan harus mengantri roti 2-3 kilometer.

“Saat itulah Presiden Franklin Delano Roosevelt itu menemukan alat untuk meyakinkan warganya dan akhirnya juga meyakinkan seluruh dunia yaitu apa, radio. Dia berpidato dengan baik sekali, memberi semangat dan seterusnya dengan pernyataan-pernyataannya yang cerdas dan imajinatif,” kata Hamid kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (01/02/2026).

Setelah itu, lanjut Hamid, ketika Roosevelt terpilih kembali menjadi Presiden AS, dia dengan berani menetapkan program 100 hari. Roosevelt ingin menunjukkan dalam 100 hari pemerintahannya harus memberi dampak yang bisa dilihat dan dirasa rakyat.

“Dia tidak ada jalan lain karena rakyat sudah begitu, hampir di titik 0. Inilah yang kemudian di Indonesia ditiru setiap ada Presiden baru 100 hari sebenernya sejarahnya itu. Apalagi, kalau rezim sebelumnya dianggap mengecewakan,” ujar Hamid.

Namun, ia menekankan, yang cukup menyakitkan dalam konteks hancurnya bursa saham kita ini karena teguran keras dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). MSCI menurunkan status kita yang tadinyaemerging market menjadi frontier market.

“Nah, ini juga sekarang kita yang emerging market ini diturunin sama Morgan Stanley jadi frontier market. Kalau lembaga internasional seperti Morgan Stanley sudah bikin begitu biasanya sesama mereka yang lain-lain sudah tinggal ikut saja, berarti mulai sekarang mungkin negeri kita ditunjuk oke ini frontier market,” kata Hamid.

Bagi Hamid, status baru itu membuat kita kira-kira sejajar dengan negara-negara seperti Pakistan atau Burkina Faso yang tentu kondisi negaranya jauh di bawah kita. Namun, ia meyakini, Indonesia cepat atau lambat mampu memulihkan status tersebut.

Meski begitu, ia menambahkan, harus disadari pula oleh pejabat-pejabat kita kalau hari ini apa yang dilakukan sudah bisa dilihat oleh semua orang. Tidak cuma rakyat Indonesia, tapi kinerja pejabat-pejabat kita sangat mudah dilihat masyarakat dunia.

“Terutama oleh para regulator yaitu bahwa kita ini sekarang sebagai bangsa, sebagai negara perekonomiannya, hukumnya, politiknya, sebetulnya kita sudah seperti berdiri di ruang kaca, orang dari 360 derajat bisa lihat. Jadi, jangan pernah bermimpi atau berilusi bahwa apa yang terjadi di sini tidak akan diketahui di tempat lain, tidak mungkin,” ujar Hamid. (WS05)

Temukan kami di Google News.