Cerita Mahfud MD Diingatkan Jenderal Polisi agar Hati-Hati karena Bisa Dihabisi

Menkopolhukam periode 2019-2024, Mahfud MD, dalam program Perspektif One on One di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (25/01/2026). Foto: Wahyu Suryana
Menkopolhukam periode 2019-2024, Mahfud MD, dalam program Perspektif One on One di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (25/01/2026). Foto: Wahyu Suryana

Sosok Mahfud MD memang identik dengan kata berani. Uniknya, negarawan yang pernah mengisi etalase pemerintahan di tiga sayap trias politica itu mengaku tidak pernah merasa takut menjalani tugas, sekalipun pernah mendapat peringatan agar hati-hati.

“Ada orang yang mengatakan hati-hati lah Anda, bahkan ada seorang jeneral polisi mengatakan hati-hati lah Pak, saya ini polisi, Anda bisa dihabisi itu, katanya. Enggak lah saya bilang, saya kan bicara kebenaran, bicara hukum, apa yang akan menyebabkan mereka menghabisi,” kata Mahfud kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam Perspektif One on One di YouTube Terus Terang Media, Minggu (25/01/2026).

Ia mengaku bersyukur, sejauh ini tidak pernah ada teror, tidak pernah ada ancaman, walaupun ponselnya terbuka dihubungi siapa saja. Mahfud malah mempersilakan saja ponselnya disadap karena memang tidak ada rahasia apapun yang coba disembunyikan.

Pun ketika dirinya jadi hakim konstitusi. Mahfud mengungkapkan, dulu malah sering memarahi orang-orang yang menghubunginya untuk mendiskusikan perkara. Karenanya, Mahfud mempersilakan saja jika obrolan-obrolan seperti itu diketahui usai disadap.

“Sehingga, saya akhirnya biasa saja. Alhamdulillah, sejauh ini oke, tidak pernah, teror itu tidak ada, ancaman tidak ada, ya harus tahu hp saya itu terbuka, sebenarnya sejak dulu saya lebih suka disadap saja biar orang tahu bahwa saya tidak apa-apa, sadap saja, memang saya mau ngomong apa saya bilang,” ujar Mahfud.

Pada kesempatan itu, turut terungkap kalau Mahfud melarang anak-anaknya menggunakan nama besar Sang Ayah, termasuk di belakang nama mereka. Malah, anak-anaknya diminta tidak memberi tahu guru-guru atau dosen-dosen agar tidak mendapatkan keistimewaan.

“Iya, saya minta tidak ada nama Mahfud MD, biasanya temannya yang menulis misalnya Wawan MD itu coret, kalau anak saya sendiri tidak boleh, bahkan dosen-dosennya pun guru-gurunya pun saya suruh jangan beritahu bahwa kamu anak saya. Waktu saya wisuda di Unair saya datang, loh ini putra Bapak 5 tahun saya bimbing tidak pernah cerita, sama yang di UGM, yang di UI, anak saya cari beasiswa sendiri,” kata Mahfud.

Meski begitu, ia menyampaikan, dirinya tidak pernah bersikap kaku, apalagi ketus, terhadap anak-anaknya. Tapi, Mahfud menekankan, keluarganya tahu kalau jabatan Sang Ayah merupakan amanah, bukan kesempatan untuk mendapatkan kesitimewaan pribadi.

“Iya, saya bilang jangan, jangan gunakan fasilitas negara, jangan gunakan fasilitas Abah, saya bilang kamu perlu apa minta ke saya, yang penting sekolahmu memang minta itu saya yang bayar, tidak usah minta pendekatan siapa-siapa,” ujar Mahfud.

Selain itu, Mahfud turut meminta keluarganya, baik istri maupun anak-anaknya, tidak menggunakan fasilitas yang disediakan sebagai pejabat negara. Hal itu dikarenakan semua fasilitas itu merupakan inventaris negara untuk dirinya, bukan keluarganya.

“Oleh sebab itu, waktu saya jadi Ketua MK itu kan mobil untuk istri ada, untuk saya ada, untuk keluarga ada yang mobil sederhana kalau ada keluarga misal mau ke mana, anak saya tidak pernah pakai mobil itu meskipun memang disediakan untuk keluarga yang perlu, sepenuhnya sah gitu ya, memang bagian dari fasilitas,” kata Mahfud. (WS05)

Temukan kami di Google News.