Ada Jamaah-Ada Jamiyah, Gus Nadir Paparkan Keunikan, Kelemahan, Sekaligus Kelemahan NU

Tokoh dan akademisi NU, Nadirsyah Hosen, dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (03/01/2025). Foto: Wahyu Suryana
Tokoh dan akademisi NU, Nadirsyah Hosen, dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (03/01/2025). Foto: Wahyu Suryana

Tokoh dan akademisi NU, Nadirsyah Hosen mengatakan, di Nahdlatul Ulama (NU) perlu dibedakan mana yang disebut jamaah, mana yang disebut jamiyah. Nadir menerangkan, yang disebut jamiyah tentu organisasinya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

“Sementara, masyarakat di bawah itu kan jamaah, kadang-kadang itu tidak nyambung antara apa yang terjadi di jamaah dengan apa yang dipikirkan oleh jamiyah, dan ini selalu problem NU, ini salah satu keunikan, kelebihan, sekaligus kelemahan NU,” kata Nadir kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (03/01/2025).

Ia menilai, salah satu kelebihan dari kondisi itu NU menjadi sangat dinamis. Jadi, keputusan-keputusan jamiyah PBNU itu belum tentu ditaati oleh jamaah karena jamaah yang sesama NU mungkin akan lebih menaati kyai-kyai lokal yang bukan struktural NU.

Nadir menekankan, jamaah akan selalu mengikuti fatwa-fatwa dan semua keputusan PBNU karena hidup sehari-hari dalam itu. Tapi, ketika kyai-kyai lokal mungkin memiliki pandangan yang berbeda soal berbagai masalah, biasanya akan lebih diikuti jamaah.

Artinya, NU, sekalipun kepalanya dipegang dengan keputusan-keputusan belum tentu ekornya bisa mengikuti begitu saja. Menurut Nadir, fenomena itu merupakan salah satu kelebihan dari NU di masa Orde Baru yang tidak bisa dikooptasi penguasa.

“Kenapa? Begitu yang kepalanya, ketua umumnya dipegang, bawahnya belum tentu bisa mengikut. Apalagi, kalau kepalanya Gus Dur enggak bisa dipegang saat itu, beda dengan ormas-ormas modern kemudian saat itu karena mereka satu komando akhirnya, apa yang kata ormasnya, anggotanya ikut, di NU tidak,” ujar Nadir.

Bagi Nadir, itu dapat pula menjadi kekurangan NU karena akhirnya tidak selalu sejalan apa yang dipikirkan oleh jamiyah dan apa yang dibutuhkan jamaah. Pun jamaah, ia berpendapat, terbagi lagi karena ada yang disebut warga NU amaliyah.

Artinya, amaliyah-amaliyah NU seperti tahlilan diikuti walau mereka tidak memiliki Kartu Tanda Anggota NU. Belakangan, ia melihat, ternnyata ritual-ritual ini sudah melampaui organisasi karena sudah jadi semacam kultural yang lekat ke masyarakat.

“Sejumlah orang-orang yang tahlilan, teman-teman di Jakarta, orang Betawi misalnya, kamu NU? Nggak. Kok tahlilan? Ya pokoknya tradisi kami itu tahlilan. Apakah otomatis menjadi orang NU? Ya nggak. Nah, ini yang menarik, sama dengan tarawih,” kata Nadir.

Ia mengingatkan, dulu hampir pasti kalau warga Muhammadiyah shalat tarawih dengan 11 rakaat dan warga NU shalat tarawih dengan 23 rakaat. Sedangkan, Kini, terutama generasi muda NU, banyak pula yang melaksanakan shalat tarawih dengan 11 rakaat.

Hal itu dipilih karena dirasa lebih praktis, lebih cepat, walau untuk Lebaran tetap ikuti waktu yang ditetapkan PBNU. Banyak pula imam-imam shalat yang mazhabnya bukan lagi mazhab organisasi, tapi lebih kepada mazhab keinginan tuan rumah pengundang.

“Termasuk, penelitian terakhir itu dari survei katakan mayoritas orang Indonesia itu mauludan, orang nggak lagi peduli NU-Muhammadiyah, sudah menjadi tradisi itu,” ujar Nadir. (WS05)