Semakin Jauhnya Warga Eropa dari Agama Jadi Tantangan Besar Paus Leo XIV

Intelektual, Hamid Basyaib, dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (01/01/2025). Foto: Wahyu Suryana
Intelektual, Hamid Basyaib, dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (01/01/2025). Foto: Wahyu Suryana

Pada Mei 2025 lalu, Vatikan secara resmi mengangkat Kardinal Robert Francis Prevost sebagai Paus Leo XIV. Intelektual, Hamid Basyaib menilai, salah satu tantangan yang harus diatasi Paus Leo tidak lain semakin jauhnya masyarakat Eropa dari agama.

“Tantangan Paus Leo ini besar juga, terutama tentang masa depan katolik kita tahu misalnya di Eropa misalnya walaupun Fatikan juga ada di jantung Eropa tetapi orang Eropa makin jauh dari agama,” kata Hamid kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (01/01/2025).

Ia merasa, kita semua bisa melihat bagaimana gereja-gereja di Eropa banyak yang kosong. Malah, biasanya dijual dan biasanya dibeli oleh para imigran dari negara-negara Muslim, kemudian dijadikan masjid atau tempat-tempat kegiatan ibadah.

Hamid mengingatkan, orang Eropa sendiri sudah semakin sekuler untuk alasan yang bisa dijelaskan. Sebab, di masa lalu ketika gereja Katolik sangat berkuasa secara politik terjadi pertumpahan darah yang besar sekali selama mungkin 500 tahunan.

Itu membuat orang Eropa tampak sudah kapok dengan semua yang berbau agama, terutama yang bersifat kekuasaan agama. Sementara, di Amerika yang tidak pernah mengalami pertumpahan darah seperti di Eropa, Kristen Protestan kini mengalami kebangkitan.

“Bahkan, di Kongres juga terjadi Kristen-Coalition. Anda bisa lihat presidennya atau menteri-menterinya kalau pidato di panggung dikit-dikit bawa Tuhan terus, God Bless America, uang dolarnya ada In God We Trust, jadi sangat religius, sesuatu yang tak akan Anda temukan di Eropa, seorang perdana menteri atau presiden di Eropa hampir tidak pernah menyebut satu kalipun kata-kata Tuhan, hanya di Amerika itu,” ujar Hamid.

Di luar itu, lanjut Hamid, sosok Paus Leo sendiri menjadi catatan sendiri karena merupakan Paus pertama yang berasal dari AS. Sosoknya begitu mencuri perhatian dunia karena kepribadiannya yang tampak berasal dari kalangan rakyat biasa.

Selain itu, dia berasal dari AS yang notabene negeri Protestan dan sangat religius, berbeda dengan kesan umum yang ditampilkan film-film Hollywood. Warga AS umumnya masih sangat peduli soal agama, terutama Kristen Protestan yang dominan di sana.

“Misal, dalam sejarah Amerika yang sudah 250 tahun lebih itu pernah hanya ada satu presiden Katolik yaitu John Fitzgerald Kennedy tahun 60-an. Bayangin, demokrasi dan sebagainya itu orang non-Protestan sulit sekali jadi presiden. Ya, misalnya Barack Obama dulu mau jadi ya dikata-katain, dianggap ini pokoknya Islam nih karena tengahnya namanya Hussein Barack Hussein Obama gitu,” kata Hamid.

Meski begitu, ia menilai, mungkin ini perkembangan yang bagus bahwa Paus berasal dari AS dan tentu orang AS pada umumnya turut berbahagia dengan diangkatnya Paus Leo. Sebab, Paus merupakan sebuah kekuasaan religius tertinggi di dunia Katolik.

Menurut Hamid, walau mungkin seorang Paus tidak memiliki kekuasaan real atau kekuasaan material, tapi kekuasaan spiritual dialah yang tertinggi. Tapi, jangan lupa, dia merupakan sosok yang menduduki posisi pimpinan tertinggi Katolik.

“Dia mungkin tidak bisa menetapkan aturan, tidak bisa bikin undang-undang buat rakyat pada umumnya, tapi jelas seorang Paus adalah penguasa tertinggi di wilayah spiritual dan dia ditaati oleh hampir 2 miliar warga katolik di seluruh dunia,” ujar Hamid. (WS05)