Pejabat yang Sebenarnya Perusak Alam Tidak Punya Budaya Malu Mundur dari Jabatannya

Tokoh Madura, Islah Bahrawi, dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Senin (08/12/2025). Foto: Wahyu Suryana
Tokoh Madura, Islah Bahrawi, dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Senin (08/12/2025). Foto: Wahyu Suryana

Tokoh Madura, Islah Bahrawi menilai, apa yang terjadi di Sumatera merupakan cara alam berbicara. Terutama, ketika alam sebagai sahabat manusia itu diserang secara brutal oleh para penjahat, maka dia tidak lagi bersahabat dengan kita.

“Alam berbicara bahwa manusia yang seharusnya menjaga alam semesta ini ternyata menjadi berusak dari seluruh stabilitas alam yang ada di seluruh dunia, wabil khusus di Indonesia,” kata Islah kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Selasa (09/12/2025).

Soal krisis ekologi yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, ia mengingatkan tulisan Theodor Adorno, seorang filsuf dari Frankfurt. Dalam buku Minima Moralia, Adorno menekankan, manusia datang jauh sesudah alam semesta ada.

Pun Sheikh Muhammad Thahir Ibnu Ashur dalam At Tahrir wa Tanwir mengatakan, alam semesta ini sudah lebih dulu ada daripada manusia. Artinya, manusia diturunkan ke alam semesta ini untuk menjaga, memimpin, merawat dari apa yang disebut oleh Ibnu Arabi sebagai Bahasa Tuhan, sebagai bahasa rahmat bagi seluruh umat manusia.

Tapi, di Indonesia kebijakan-kebijakan terkait alam malah dibuat serampangan, lalu menjadikan manusia sebagai korban. Para penjahat itu, baik pelaku illegal logging, illegal mining, dan berbagai pertambangan-pertambangan baik itu yang formal maupun non-formal, ternyata menjadi penggunting dalam lipatan kehidupan manusia kita kini.

“Ironisnya lagi, bencana yang terjadi di Sumatera itu memakan seluruh anak manusia yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan perusakan alam yang terjadi di berbagai belahan Sumatera dan beberapa bagian Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan seterusnya,” ujar Islah.

Maka itu, Islah mengajak semua membangun kesadaran, terutama para pembuat kebijakan agar jangan lagi mengelola negara ini secara serampangan. Sebab, ia mengingatkan, bagaimanapun kita harus tetap menghidupkan alam semesta ini sampai hari kiamat.

Manusia, kata Islah, boleh mati kapan saja. Tapi, ia menegaskan, alam semesta harus bisa terjaga keseimbangannya. Islah menyayangkan, pejabat-pejabat yang sebenarnya membuat huru hara, merusak hutan, malah tidak ada satu pun yang punya budaya malu.

“Lebih ironis lagi, para pejabat yang sebenarnya justru membuat huru hara, merusak hutan, tidak ada satupun yang memiliki budaya malu untuk mundur dari jabatannya. Bahkan, mereka bertindak sebagai pejabat yang seolah-olah helping hand, padahal mereka adalah grabbing hand,” kata Islah.

Mereka, lanjut Islah, hari ini datang ke berbagai lokasi seolah-olah dia malaikat penolong, tapi sebenarnya mereka itu perampok dari berbagai keseimbangan alam yang ada di Indonesia. Berbagai kebijakan tambang yang hari ini dibuka, dieksplorasi seluas-luasnya atas nama negara, sebenarnya hanya menguntungkan segelintir pihak.

Tapi, dampaknya mengorbankan seluruh umat manusia yang mendiami berbagai konservasi alam dan berbagai tempat di seluruh Indonesia yang semuanya bergantung kepada alam. Karenanya, Islah meminta mereka yang bertanggung jawab itu malu dan segera mundur.

“Para pejabat yang tidak becus menduduki jabatannya, mundur kalau punya budaya malu. Jangan kemudian obsesi politik ini dijaga seawet-awetnya seolah-olah Anda bisa membuat kebijakan yang hanya menguntungkan kepada kelompok mereka saja. Ini adalah bagian dari kejahatan-kejahatan kebijakan atas nama negara,” ujar Islah. (WS05)

Temukan kami di Google News.