Rencana pemerintah melakukan redenominasi rupiah menuai pro dan kontra. Ekonom, Halim Alamsyah mengatakan, Indonesia perlu melihat pengalaman negara-negara yang sudah melakukan redenominasi mata uang mereka sebagai pelajara. Misal, Zimbabwe.
Pada 2008 saja, ia menerangkan, Zimbabwe masih mengeluarkan uang senilai Rp 100 triliun dolar Zimbabwe yang senilai 1 dolar Amerika. Artinya, jika dibandingkan mata uang Indonesia, Rp 100 triliun dolar Zimbabwe itu hanya senilai Rp 16.000.
“Memang kita menyadari bahwa ini kosmetik saja, walaupun bisa kita katakan ini menjadi bagian dari suatu paket kebijakan yang kalau diikuti dengan perbaikan fundamental di ekonomi kita itu akan membuat jadi lebih baik semuanya, termasuk misalnya ke preferensi orang untuk akhirnya memegang rupiah,” kata Halim kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam B.E.P di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (20/11/2025).
Hal itu bisa jadi ekspektasi yang dipegang pemerintah untuk melakukan redenominasi. Tapi, Halim mengingatkan, langkah itu tidak menggeser masalah-masalah dasar yang ada karena pemerintah tetap harus membereskannya persoalan besar seperti inflasi.
“Ada negara yang berhasil, ada yang negara tidak berhasil kayak Zimbabwe tadi sudah jelas dia tidak berhasil. Bahkan, Zimbabwe itu sendiri sudah 5 kali sebetulnya melakukan redenominasi, menyerah, memakai dolar. Dia pastikan mengapa dia tidak berhasil karena fundamental kebijakan makro-ekonominya tidak benar,” ujar Halim.
Salah satunya, Halim menerangkan, Pemerintah Zimbabwe meminta bank sentral mereka terus mencetak uang untuk diberikan dan digunakan Kementerian Keuangan Zimbabwe. Hal itu jadi langkah deficit financing untuk membuat seakan mereka memiliki uang.
Padahal, ia menekankan, uang itu sebenarnya merupakan pajak yang diambil lebih dulu dari masyarakat memakai jalur cetak uang dan bank sentral karena yang bisa mencetak uang hanya negara. Uang itu digunakan untuk pembangunan-pembangunan infrastruktur.
“Di Zimbabwe ini diperintahkan bank sentralnya cetak uang, saya mau bangun proyek-proyek mercusuar lah, apalah gitu, mau bangun jalan, mau jembatan, dia keluarkan dulu uangnya uang kertas maupun uang apapun dia bayar duluan kepada kontraktornya,” kata Halim.
Tapi, ia menekankan, yang terjadi di Zimbabwe hari ini ada uang senilai 100 triliun dolar, bahkan besok pagi nilainya sudah bisa berkurang 10-20 persen. Hal itu karena masalah-masalah fundamental tidak diselesaikan, dan membuat inflasi sangat tinggi.
“Nah, itu yang membuat redenominasi itu tidak akan ada gunanya karena berapa tahun kemudian dalam tempo dua tahun nilai nolnya yang ada di Zimbabwe dolar itu kembali lagi, itu kan berarti tidak perlu dilakukan redominasi. Akhirnya, dia ganti sama sekali dengan mata uang dolar Amerika,” ujar Halim. (WS05)
