Pertumbuhan Kesempatan Kerja Turun, Penciptaan Tenaga Kerja Terlamban 10 Tahun Terakhir

Ekonom, Halim Alamsyah, dalam program Bicara Ekonomi Politik (B.E.P) di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (12/11/2025). Foto: Wahyu Suryana
Ekonom, Halim Alamsyah, dalam program Bicara Ekonomi Politik (B.E.P) di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (12/11/2025). Foto: Wahyu Suryana

Ekonom, Halim Alamsyah, menyoroti pertumbuhan kesempatan kerja yang malah menurun. Dari data-data yang ada, di sektor growth terlihat yang tumbuh tinggi hanya sektor jasa-jasa dan biasanya berasal dari sektor informal.

“Kesempatan kerja kita ternyata menurun pertumbuhannya, karena hampir 85 persen pertumbuhan kesempatan kerja akhir-akhir ini justru banyak terjadi di sektor informal,” kata Halim kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program B.E.P di YouTube Terus Terang Media, Rabu (12/11/2025).

Ia menerangkan, investasi baru di bidang industri pengolahan kita sangat sedikit. Halim menuturkan, jenis-jenis industri yang datang ke Indonesia itu lebih banyak kepada industri pengolahan untuk barang-barang tambang.

Akibatnya, tidak banyak menerima banyak tenaga kerja karena itu kategori padat modal. Terbatasnya di industri pengolahan membuat mereka banyak mencari di daerah-daerah yang masih bisa menerima seperti jasa-jasa.

“Transportasi, perdagangan, ini kita lihat di situ isinya mungkin lebih banyak terkait industri transportasi seperti Gojek dan sebagainya, logistik. Artinya, dia membutuhkan tenaga yang tidak terlalu terdidik, upahnya upah minimum atau hampir mendekati upah minimum,” ujar Halim.

Data menunjukkan open unemployment relatif masih datar, cuma 4,85 persen dibandingkan Maret tahun ini dan tidak terlalu banyak kenaikan. Tapi, jika dibedah lebih lanjut ternyata penciptaan tenaga kerja sangat lamban.

“Ternyata sampai Agustus ini penciptaan tenaga kerja itu lamban sekali. Ini berdasarkan data-data yang kita dapatkan ya dari Vherdana, teman-teman dari Vherdana Research, itu 1,3 persen tumbuhnya, dan ini merupakan job creation yang paling rendah selama 10 tahun terakhir,” kata Halim.

Selain itu, lanjut Halim, kita mengalami kenaikan upah paling lamban sejak pandemi Covid melanda. Data BPS yang baru dikeluarkan pada Agustus 2025 lalu, angkanya hanya naik 1,9 persen atau Rp 3,3 juta per bulan.

Maka itu, Halim mengaku tidak heran kalau serikat pekerja terus meminta kenaikan upah tinggi. Hal itu dikarenakan sudah selama ini mereka merasa tidak bisa lagi mengejar kenaikan harga-harga yang terjadi di Indonesia.

“Sekitar 82-85 persen pekerjaan yang tercipta kurang lebih sekitar hampir 13 juta pekerjaan, itu terjadinya di sektor-sektor yang memberikan gaji redah. Ini contohnya di sektor konstruksi, ya artinya tukang-tukang,” ujar Halim.

Untuk wholesale dan retail, perdagangan besar dan eceran gajinya hanya Rp 2,8 juta. Akomodasi dan FnB, hotel dan restoran hanya 2,4 juta. Pertanian yang pekerjanya banyak hanya buruh tani hanya upah minimum Rp 1,8 juta.

Sedangkan, dari sektor edukasi yang sektoralnya tumbuh 9,5 persen gajinya hanya Rp 2,7 juta. Terlebih, tenaga-tenaga pendidik yang memang bukan ASN, upahnya sangat rendah hanya sekitar Rp 1,8 juta per bulan.

“Ini menunjukkan bahwa job creation terciptanya jenis pekerjaan yang tadi saya sampaikan 82 persen itu atau sekitar 13 juta orang itu memang betul-betul di wilayah yang hanya membayar bahkan tidak sampai ke upah minimum. Jadi, low quality kira-kira, ini menjadi masalah mendasar,” kata Halim. (WS05)

Temukan kami di Google News.