Tokoh Madura, Islah Bahrawi mengatakan, organisasi-organisasi relawan masih terus hidup walau kontestasi seperti Pilpres sudah usai. Ia merasa, pada akhirnya itu membuktikan kalau mereka memang sekadar alat dagangan.
Salah satunya ditampilkan Projo dengan pimpinannya, Budi Arie, yang tiba-tiba mengungkap rencana mengganti logo dari wajah mantan presiden, Joko Widodo. Bahkan, mereka membantah kalau Projo singkatan dari Pro Jokowi.
“Karena 2029 entah presidennya siapa, dia akan berganti lagi dengan gambar siapa, dan itu akan menjadi singkatan apa. Ini adalah postulat yang biasa terjadi di dalam dunia politik dengan baseline karakter pengkhianat,” kata Islah kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Selasa (11/11/2025).
Islah, beberapa waktu lalu, pernah berbicara begitu lantang tentang keterlibatan Budi Arie dalam kasus judi onlin (judol) Komdigi. Islah menyakini, Budi Arie terlibat meski pada akhirnya dia terselamatkan.
Ia mengaku sulit membayangkan kalau ternyata terselamatkannya Budi Arie dari kasus itu karena ada perlindungan dari Jokowi. Bagi Islah, itu tidak lain merupakan pengkhianatan yang begitu besar dari Budi Arie ke Jokowi.
“Saya tidak ada kepentingan apapun, saya hanya bicara apa yang ingin saya bicarakan. Yang jelas, saya ingin berdiri di atas kebenaran. Tapi, sekali lagi kepada Pak Prabowo, hati-hati dengan akal bulus dari orang yang telah mengkhianati kepada tuan yang sebelumnya, lalu dia akan mengkhianati tuan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya lagi,” ujar Islah.
Ia melihat, orang-orang seperti itu tipikal bunglon yang bisa berubah wajahnya menjadi apa saja, mengubah omongannya jadi narasi apa saja. Maka itu, Islah mengingatkan kepada pemerintah untuk lebih mencermati mereka.
Islah menyarankan, orang-orang seperti itu jangan diberi ruang karena berbahaya bukan hanya bagi pemerintah, tapi bangsa dan negara. Terutama, bagi pendidikan politik karena melahirkan pengkhiatan-pengkhiatan lain.
“Pada akhirnya isi negara ini akan dipenuhi oleh para pengkhianat atas nama kepentingan. Dan kita tahu juga, Pak Jokowi pernah mengkhianati PDIP, lalu melahirkan Budi Arie, yang hari ini justru mengkhianati Pak Jokowi. Entah ini bagian dari gerakan-gerakan politik dan manuver politik, tapi yang jelas pengkhianatan itu ada di depan mata,” kata Islah.
Islah meyakini, Presiden Prabowo tentu jauh lebih tahu soal itu. Tapi, ia mengingatkan, orang-orang sejenis ini jika diberi ruang sebagai pemangku tidak akan melahirkan kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada rakyat.
Menurut Islah, penting bagi kita berpolitik sehat, tanpa harus memainkan agitasi, narasi-narasi yang inkonsisten. Sebab, ada pula partai yang dulu habis-habisan menyerang Prabowo, hari ini menjilat Prabowo habis-habisan.
“Bahkan, ada partai yang dulu menentang keluarga Soeharto serta Soeharto, hari ini menjilat habis-habisan, bahkan mendukung Soeharto jadi pahlawan. Ini tipikal bunglon, penjilat, pengkhianat, yang harus dihindari dari ruang politik kita, supaya ruang politik kita tidak diisi pengkhianat,” ujar Islah. (WS05)
