Intelektual, Hamid Basyaib, menyoroti sosok Wali Kota New York terpilih, Zohran Mamdani, yang jadi sensasi baru. Selain sebagai minoritas, Zohran berhasil memikat publik lewat janji-janji kampanye yang cukup populistik seperti transportasi umum gratis dan layanan penitipan anak-anak gratis.
Oleh Zohran, semua operasional layanan-layanan publik itu akan ditanggung Kantor Wali Kota dan digratiskan untuk warga New York. Hamid mengatakan, untuk mewujudkan janji-janji kampanye itu Zahron memegang sekitar USD 120 miliar. Sebagai gambaran, angka itu lebih dari setengah APBN Indonesia.
“Memang Amerika itu semua serba besar, kota saja bisa lebih dari separuh APBN kita dan dengan uang itu dia bilang akan belanjakan buat kebutuhan-kebutuhan sosial yang gratis. Ini banyak yang meragukan karena biayanya mahal sekali dan kira-kira dari mana dia dapat duitnya,” kata Hamid kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (09/11/2025).
Dilihat dari anggaran tentu kurang karena kebutuhan merealisasikan janji-janjii kampanye Zohran memang cukup tinggi. Semua itu ditambah bom dari Washington DC, Presiden AS, Donald Trump, mengancam kalau Zohran terpilih dia akan sunat dana federal untuk New York yang jumlahnya signifikan.
Faktanya, Zohran tidak menunjukkan kegentaran terhadap Trump dan secara frontal menantang lewat pidato penerimaannya sebagai Wali Kota New York. Pesona Zohran dirasa begitu memikat dengan cara-cara yang cukup cerdas. Kini, semua menanti Zohran mengimpelentasikan janji-janji kampanyenya.
“Apakah dia bisa menginspirasi banyak orang lain, termasuk di Indonesia misalnya. Di negara kita sebagai ide pastilah dia inspiring, pastilah dia menginspirasi banyak orang dan anak muda, imigran bisa jadi hebat begitu. Wali Kota di melting pot, di negeri yang kurang lebih bukan negeri dia,” ujar Hamid.
Walaupun memang New York dan AS seluruhnya merupakan negeri imigran, tapi lama-lama orang berkulih putih merasa AS merupakan negeri mereka. Jadi, orang-orang Hispanic, Spanyol, Korea, Arab, bahkan orang-orang Yahudi yang begitu banyak dianggap pendatang imigran oleh orang berkulit Putih.
Zohran merupakan double, bahkan triple minority. Dia Muslim, keturunan seorang Ayah dari India yang lahir di Uganda, tapi bisa menginspirasi. Bagi Hamid, implementasi seperti kehadiran Zohran di New York mungkin sulit di Indonesia. Tapi, yang terpenting sudah ada contoh baik di sana.
“Mulai 1 Januari besok dia bertugas, tapi ada hal lain lagi yang menarik lagi, ini orang memang terus-menerus memikat kita dengan caranya. Misal, tim transisinya terdiri dari 5 orang dan 5-5 nya perempuan dari mungkin 5 etnis yang berbeda. Jadi, dari segi itu menarik sekali,” kata Hamid.
Tampaknya, Zohran menganggap dunia ini lebih baik kalau diurus perempuan. Kebetulan, beberapa negara lain AS memilih gubernur-gubernur perempuan seperti Virginia dan Michigan. Ada pula yang merupakan Muslim seperti keturunan Lebanon yang jadi wakil gubernur perempuan satu negara bagian.
Jadi, jadi memang ada semacam kebangkitan dan orang Islam di sana merasa besar hati melihat apa yang mereka anggap sebagai kebangkitan kaum Muslim di Amerika. Minimal, mereka bisa lega dan lapang hati karena stigma atas Islamophobia itu dipatahkan dengan telak oleh Zohran Mamdani dan timnya.
“Sudah terbukti bahwa dia, meskipun dia Muslim, yang mendukungnya banyak sekali dari kalangan-kalangan non-Islam, Hindu, Sikh. Nah, mudah-mudahan dia berhasil dan mungkin akan membawa inspirasi yang lebih jauh lagi, termasuk bagi kita Indonesia kita ucapkan selamat buat Zohran Mamdani,” ujar Hamid. (WS05)
