Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Savic Ali mengingatkan, Orde Baru di bawah tangan besi Soeharto benar-benar memarginalisasi NU. Selama Soeharto berkuasa, NU benar-benar dijaga agar selalu di luar arena.
“NU dimarginalisasi sedemikian rupa. Semua orang NU yang pegawai negeri tak akan bisa naik pangkat, tak akan bisa jadi pejabat tinggi. Ibaratnya, NU ditaruh di luar stadion, selama Orde Baru 32 tahun NU di luar stadion, tidak boleh masuk bermain di dalam stadion,” kata Savic ke terusterang.id dan ditayangkan dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (07/11/2025).
Mungkin, lanjut Savic, hanya ada 1-2 orang yang secara simbolis saja diberikan kursi untuk menonton di dalam stadion. Tapi, ia menekankan, secara umum orang-orang NU dimarginalisasi agar tetap berada di luar.
“Pak Harto dengan kebijakan tangan besinya memarginalisasi sekian orang, sentralisasi kekuasaan di Jakarta, kemudian menciptakan perlawanan yang membuat dia dipaksa turun pada 1998,” ujar Savic.
Ironisnya, hari ini yang loloskan nama Soeharto untuk diusulkan menerima gelar Pahlawan Nasional malah Sekjen PBNU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul. Gus Ipul merupakan Menteri Sosial di Kabinet Merah Putih yang tentu saja merupakan pembantu Presiden Prabowo, yang kebetulan menantu Soeharto.
Savic menilai, keputusan itu memang datang dari kekuatan politik yang sedang berkuasa dan tampaknya tidak bisa ditolak Gus Ipul. Namun, ia meyakini, sebenarnya Gus Ipul masih memiliki pilihan bersikap, yaitu mempertahankan prinsip-prinsip diri atau memilih kepentingan politiknya.
“Pilihannya adalah dia mundur jadi Mensos, dan saya tidak yakin dia akan mundur, akhirnya dia memilih memprosesnya sebagai Mensos. Apesanya dalam tanap kutip dia Mensosnya, dan nanti kita bisa menilai bahwa orang memang hidupnya dia mengikuti prinsip-prinsip atau dia mengikuti interest-nya,” kata Savic.
Bagi Savic, yang masalah bukan hari ini. Tapi, ia menekankan, ketika Gus Ipul memilih mementingkan kepentingannya dan memproses usulan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional, ternyata tahun depan dia terkena reshuffle.
Lebih dari itu, Savic mengingatkan, Gus Ipul merupakan Sekjen PBNU dan NU memiliki sejarah yang sangat kelam dengan Orde Baru di bawah tangan besi Soeharto. Karenanya, sudah selayaknya Gus Ipul menolak usulan tersebut.
“Gus Ipul itu Sekjen PBNU, dan NU punya sejarah kelam dengan Orde Baru. Selayaknya dia bersuara, paling tidak dia menyatakan, ya mungkin dia keberatan. Tapi, kan suara keberatan itu tidak ada. Artinya, dia memang mendudukan diri ingin sebagai menteri yang baik dengan Presiden Prabowo,” ujar Savic. (WS05)
