Butet: Menjilat Kok Jadi Kebanggaan, Ini Etika Model Apa?

Budayawan, Butet Kertaredjasa, dalam Dialog Kebangsaan untuk Indonesia Damai bersama Sri Sultan Hamengku Buwono X, Minggu (26/10/2205). Foto: Wahyu Suryana
Budayawan, Butet Kertaredjasa, dalam Dialog Kebangsaan untuk Indonesia Damai bersama Sri Sultan Hamengku Buwono X, Minggu (26/10/2205). Foto: Wahyu Suryana

Budayawan, Butet Kertaredjasa, mengungkapkan kesedihan dan keprihatinan atas nilai-nilai etika yang semakin tidak ditunjukkan pejabat-pejabat negara kita hari ini. Ia merasa, tata krama seperti sudah tidak lagi menjadi teladan yang harus ditampilkan.

Salah satunya ditampilkan mantan Kepala Kantor Komunikasi Presiden, Hasan Hasbi, yang kini menjadi Komisaris Pertamina. Hasan, belum lama ini lagi-lagi menuai kontroversi karena mengakui mendapatkan jabatan karena menjilat Presiden Prabowo.

“Bayangkan, tempo hari di media massa, di podcast, di berita resmi mainstream itu ada berita yang menerangkan misalnya, ada seorang mantan pejabat komunikasi Istana Negara, pejabat komisaris BUMN, bisa mengatakan saya bisa bertarung memenangkan pertarungan karena menjilat, menjilat kok menjadi kebanggaan, ini etika model,” kata Butet dalam Dialog Kebangsaan untuk Indonesia Damai bersama Sri Sultan Hamengku Buwono X dan ditayangkan di YouTube Mahfud MD Official, Rabu (29/10/2025).

Butet mengaku sedih karena tindakan itu dibuat seperti sesuatu yang biasa. Padahal, tindakan seperti itu tidak pernah dibenarkan dalam masyarakat berbudaya adiluhung seperti Indonesia. Butet turut mengkritisi respons pejabat-pejabat atas MBG.

Khususnya, ketika mereka menganggap biasa ribuan anak-anak di seluruh penjuru Indonesia yang menjadi korban dari program bernama Makan Bergizi Gratis tersebut. Padahal, Butet mengingatkan, sebelumnya tidak pernah ada tragedi semacam itu.

“Sebelumnya tidak pernah ada acara seperti itu aman-aman saja, tidak pernah ada siswa sekolah keracunan. Hari ini, kita panen orang keracunan karena MBG dan itu seakan jadi biasa, yang tidak biasa hari ini jadi seakan biasa dan dibenarkan,” ujar Butet.

Selain itu, Butet menyoroti langkah Presiden Prabowo yang menjanjikan rakyat akan membentuk Komite Reformasi Kepolisian. Ini jadi buntut disorotnya kinerja Polri, khususnya dalam mengawal gelombang demokrasi akhir Agustus dan awal September.

Sayangnya, lanjut Butet, janji itu sampai hari ini tidak terdengar lagi kabarnya dan kelanjutannya. Padahal, ia mengingatkan, pemimpin itu sekaligus pula guru yang seharusnya digugu dan ditiru, termasuk saat dia mengucap janji, maka dia menepati.

“Yang wajib digugu, ditiru, diteladani, lah kok sekarang saya seperti kesulitan mendapat pemimpin yang pantas saya teladani untuk menjadi Indonesia damai, sedih,” kata Butet.

Kondisi ini membawa Butet teringat ucapan Kyai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, yang diakui sangat membekas. Yang mana, mengajarkan kita untuk membiasakan yang bena, bukan membenarkan yang biasa. Hari ini, Butet merasa, itu tidak terjadi.

“Apa yang kita lihat yang seakan-akan menjadi biasa harus kita kritisi, itu tidak biasa, satu siswa keracunan itu terlalu banyak, kita tidak bisa menganggap ribuan orang keracunan sebagai suatu yang biasa, etika hari ini memang sedang ambyar,” ujar Butet. (WS05)