Selain Utang Whoosh, Menkeu Purbaya Tolak Gelontorkan APBN untuk Family Office

Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, saat rapat dengan Komisi XI DPR RI, Rabu (01/10/2025). Foto: Wahyu Suryana
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, saat rapat dengan Komisi XI DPR RI, Rabu (01/10/2025). Foto: Wahyu Suryana

Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, APBN tidak akan ikut menanggung beban utang proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang dikelola PT KCIC. Selain itu, Purbaya mengaku tidak berniat menggelontorkan APBN untuk pembangunan Family Office di Bali.

“Anggaran enggak akan saya alihkan ke sana,” kata Purbaya usai pertemuan dengan investor di kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kemenkeu, Senin (14/10/2025).

Purbaya mengaku, telah mendengar rencana pembangunan Family Office yang diusulkan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan. Sejauh ini, Purbaya menyatakan, akan membiarkan DEN menjalankan wewenangnya dalam pembangunan itu.

Purbaya menyampaikan, tidak akan melakukan intervensi apapun dalam rencana itu, termasuk memberikan masukan. Bahkan, Purbaya mengungkapkan, dirinya sebenarnya belum terlalu mengerti konsep Family Office walau sering disampaikan oleh Luhut.

“Saya belum terlalu mengerti konsepnya walaupun Pak Ketua DEN sering bicara. Tapi, saya belum pernah lihat konsepnya, jadi saya enggak bisa jawab,” ujar Purbaya.

Soal APBN, Purbaya menyebut, akan berfokus untuk menyalurkan anggaran dengan tepat, baik tepat waktu maupun tepat sasaran, sehingga tidak ada kebocoran anggaran. Purbaya mengaku bisa bantu doa saja jika Family Office tetap mau dibangun.

“Kalau mau (buat Family Office), saya doakan,” kata Purbaya.

Sebelumnya, DEN rencanakan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pusat Keuangan dan Family Office di Bali untuk menarik investasi asing masuk. Itu menjadi gerbang investasi luar negeri yang akan masuk dan diinvestasikan ke berbagai sektor riil.

Luhut menyebut, investor berkesempatan menjadi co-investor bersama Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Indonesia dan Indonesia Investment Authority (INA). Luhut mengklaim strategi serupa sukses di Dubai, Hongkong, dan Singapura.

DEN mempertimbangkan Bali menjadi lokasi potensial untuk KEK Keuangan Pusat dan Family Office. Mengingat wilayahnya yang dikenal sebagai work heaven bagi investor global dan akan menjadi salah satu kandidat wilayah Indonesia Financial Centre (IFC). (Antara/WS05)

Temukan kami di Google News.