Tokoh Madura, Islah Bahrawi, menyampaikan duka cita mendalam atas musibah di Pondok Pesantren Al Khoziny di Desa Buduran, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Islah mendoakan santri yang gugur mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah.
“Mudah-mudahan seluruh santri yang gugur dalam musibah tersebut bisa diterima di sisi Allah dan segala amal ibadahnya juga mendapatkan tempat yang layak di sisinya. Mudah-mudahan di alam akhirat diberi alam yang terang benderang,” kata Islah kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (09/10/2025).
Ia melihat, di balik musibah yang terjadi banyak yang menyerang seolah pesantren lembaga tidak beradab, tidak berbudaya, tidak mengenal aturan dan sebagainya. Bagi Islah, ini orang-orang yang tidak paham suasana kebatinan yang ada di pesantren.
Maka itu, ia menyarankan, orang-orang kota penyerang musibah ini mencari masukan berimbang, tanpa mengurangi rasa duka ke puluhan korban yang meninggal tersebut. Dari kejadian ini, tampak pula banyak orang yang tidak tahu kultur di pesantren.
“Kyai mendirikan pesantren banyak membutuhkan pengorbanan. Tanah yang seharusnya milik pribadi dihibahkan untuk pesantren. Kyai yang mendirikan pesantren juga tidak pernah berupaya untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah misalnya,” ujar Islah.
Ia menerangkan, di pesantren-pesantren, terutama salaf dan berbasis NU, rata-rata memang kyai sangat mandiri. Menjadi seorang kyai yang memiliki pesantren harus siap untuk mengemis pendanaan kepada banyak orang, termasuk kepada wali-wali santri.
Islah menyebut, pesantren itu pada dasarnya adalah tempat penikiban anak dari para wali santri yang tidak pernah memberatkan dan tidak pernah memberlakukan SPP kepada wali santri. Islah turut mengalami itu semua saat menjadi santri pesantren salaf.
“Saya menjadi santri tahunan, dan bahkan keluarga saya memiliki banyak pesantren. Beberapa saudara saya juga sampai saat ini masih mengoperasikan beberapa pesantren dan mereka memang tidak pernah menjadi orang yang bersandar kepada bantuan-bantuan dari pihak lain atau dari para pengusaha misalnya,” kata Islah.
Menurut Islah, apa yang dilakukan oleh kyai di Ponpes Al Khoziny sesuai kemampuan. Jadi, banyak orang yang menganggap ini karena kelalaian, dan mungkin benar karena lalai, bahkan ada yang menggugat pesantren ini karena tidak ada yang memiliki IMB.
“Karena memiliki IMB harus ada bestek, spesifikasi teknis, gambar dan sebagainya. Para kyai-kyai di pondok pesantren tradisional tidak ada satupun yang merancang pesantren memiliki gambar atau spesifikasi teknis sesuai gambaran orang-orang kota yang seolah harus ada arsitek yang terjun ke situ untuk merancang bangunan. Karena, kyai yang memiliki pesantren biasanya membangun berdasarkan kemampuan,” ujar Islah.
Dalam pembangunan, ia menerangkan, para kyai biasanya membeli bahan bata demi bata, tahun demi tahun, sampai berdiri bangunan yang besar. Lalu, santri-santri biasanya dilibatkan untuk membantu tukang-tukang yang ada, sebagai bagian dari pengabdian.
Islah mengaku terenyuh dengan berbagai serangan dari orang-orang yang tidak tahu suasana kebatinan pesantren. Padahal, ia menambahkan, seorang kiai yang berjuang hmembesarkan pesantren itu, melakukan tanpa berharap uang dari para wali santri.
“Jadi, tolong dipahami suasana-suasana seperti ini, orang-orang kota melihat ini seolah-olah pondok pesantren itu seperti Boarding School yang banyak tersedia di sekitaran kota itu, yang kemudian harus berbayar sekian ratus ribu setiap bulan dengan fasilitas luar biasa, dengan pendingin ruangan luar biasa,” kata Islah. (WS05)
