Sebulan Menjabat, Ekonom Paparkan Dampak Positif Jangka Pendek Kebijakan Menkeu Purbaya

Ekonom, Halim Alamsyah, dalam program Bicara Ekonomi Politik (B.E.P) di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (08/10/2025). Foto: Wahyu Suryana
Ekonom, Halim Alamsyah, dalam program Bicara Ekonomi Politik (B.E.P) di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (08/10/2025). Foto: Wahyu Suryana

Genap satu bulan Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, menjabat sejak dilantik 8 September 2025. Ekonom, Halim Alamsyah, menyoroti identifikasi masalah Menkeu Purbaya yang kerap mengedepankan mahzab Milton Friedman dalam kebijakannya.

Ia berpendapat, teori likuiditas dari Milton Friedman, yang diakui dianut Menkeu Purbaya, sebenarnya berlaku secara empiris dalam jangka panjang. Sedangkan, dalam jangka pendek masih ada banyak sekali faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan.

“Kalau kita melihat cara Menteri Keuangan kita mengidentifikasi masalah itu cukup menarik, karena dia cukup percaya dewasa ini ketika ekonomi sedang boleh dibilang dalam posisi yang tidak baik, mungkin melambat, identifikasi Menteri Keuangan ini menunjukkan bahwa jumlah likuiditas yang tersedia di sistem keuangan tidak cukup,” kata Halim kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program B.E.P di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (08/10/2025).

Kondisi itu yang mengakibatkan tanda-tanda suku bunga cenderung tinggi, serta mengakibatkan baik deposito tinggi maupun suku bunga kredit cukup tinggi. Halim menyebut, deposito yang tinggi ini hasil dari perebutan dana kalangan perbankan.

Pasalnya, dana yang tersedia sedikit karena tidak ada ekspansi yang cukup dari Bank Indonesia (BI) pada waktu itu. Walaupun, Halim mengingatkan, tahun ini sebetulnya BI sudah memberi ekspansi cukup besar dengan total dana ke luar Rp 300-400 triliun.

Tapi, ternyata tidak cukup, sehingga bank besar cenderung lebih mudah mendapatkan dana, sementara bank menengah dan bank kecil kalah saing. Di sisi kredit, dengan harga yang mahal dan permintaan melemah, semakin orang menghindari meminta kredit.

Bagi Halim, identifikasi yang dilakukan Menteri Keuangan itu menunjukkan dia memang percaya ini merupakan saat yang tepat untuk menambah likuiditas. Terlebih, jika dia melihat proses yang harus dilalu cenderung lebih lama jika meminta Bank Indonesia.

“Yang paling cepat bagi dia memindahkan rekening pemerintah yang ada di BI sebesar Rp 200 triliun ke rekening pemerintah yang ada di bank-bank Himbara, ini yang kita lihat dampak jangka pendeknya sudah kelihatan, dalam pengertian sekarang ini dewasa ini, terjadi penurunan suku bunga simpanan yang cukup cepat,” ujar Halim.

Jika sebelumnya di atas 5 persen, termasuk special rate, sekarang sudah di bawah itu. Bahkan, Halim melihat, beberapa bank besar cenderung tidak menawarkan special rate tinggi, sehingga kalau kita datang ke bank akan diawarkan suku bunga counter.

Artinya, kebijakan Menkeu dan BI saling memperkuat karena BI sejak awal tahun terus melonggarkan kebijakan moneter. Bahkan, baru beberapa hari lalu BI menurunkan lagi suku bunga (BI Rate), sehingga memperkuat kebijakan Menkeu kucurkan dana Rp 200 t.

“Tentu saja efeknya menurunkan suku bunga jangka pendek, baik di sisi simpanan dan penurunan suku bunga kredit, ini yang diharapkan Menkeu. Kalau situasinya sudah sedemikian tentu akan memancing orang untuk meminta kredit lebih banyak, mengajukan pinjaman lebih banyak, bisa mengajukan pinjaman baru, bisa pindah ke bank lain yang belum mau menurunkan suku bunga kreditnya, sehingga nanti terjadi proses di mana akhirnya suku bunga kredit harus turun karena tekanan persaingan,” kata Halim. (WS05)