‘Tepuk Sakinah’ viral di media sosial. Itu merupakan strategi berbeda yang dibuat Kementerian Agama (Kemenag) yang dirancang untuk membantu calon pengantin tentang nilai-nilai penting keluarga, terutama untuk memahami lima pilar keluarga sakinah.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjen Bimas Islam) Kemenag, Abu Rokhmad mengatakan, inovasi kreatif berupa Tepuk Sakinah dibuat agar calon pengantin mengingat dengan mudah lima pilar penting membangun keluarga sakinah.
“Melalui Tepuk Sakinah, pilar keluarga sakinah lebih mudah diingat dan suasana pembekalan menjadi lebih hidup,” kata Abu, dikutip Sabtu (27/09/2025).
Gerakan Tepuk Sakinah menjadi perbincangan hangat masyarakat karena dinilai unik, berbeda, meskipun sarat pesan moral. Formatnya memadukan gerakan tepuk tangan dengan syair sederhana, sehingga peserta lebih mudah menghafal inti materi.
Pilar keluarga sakinah yang diajarkan meliputi zawaj atau berpasangan, mitsaqan ghalizan atau janji kokoh, mu’asyarah bil ma’ruf atau saling cinta, hormat, menjaga, dan berbuat baik. Lalu, ada musyawarah, serta taradhin atau saling ridha.
“Dengan format yel-yel, nilai-nilai ini diharapkan lebih mudah diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Abu.
Menurut Abu, gerakan tepuk tangan dalam Tepuk Sakinah bukan sekadar seremonial. Ia menekankan, pesan-pesan yang dibangun dimaksudkan agar pasangan mampu mencairkan suasana ketika terjadi konflik dengan kembali mengingat esensi keluarga sakinah.
Fondasi keluarga sakinah mencakup prinsip keadilan, keseimbangan, dan kesalingan. Karakteristiknya dibangun atas perkawinan yang sah dan tercatat, dilandasi prinsip nondiskriminasi dan nonkekerasan, dan dirawat dengan kasih sayang dan moderasi.
Selain itu, diberi pembekalan komprehensif. Catin dibimbing mempersiapkan keluarga sakinah menyeluruh, mulai pengelolaan psikologi dan dinamika keluarga, keuangan rumah tangga, kesehatan reproduksi, serta persiapan membangun generasi berkualitas.
“Program ini bertujuan menyiapkan calon pengantin membentuk keluarga yang kuat, menurunkan angka perceraian, dan meningkatkan kualitas rumah tangga,” kata Abu.
Tahun ini, Kemenag mencetak 600 fasilitator Bimwin. Mereka mendampingi catin tidak hanya sebelum menikah, tapi juga setelah menikah melalui program lanjutan. Seperti Sekolah Relasi Suami-Istri (Serasi), Konsultasi, Mediasi, Pendampingan, Advokasi (Kompak), dan Layanan Bersama Ketahanan Keluarga Indonesia (Lestari). (Antara/WS05)
