Survei: Sertifikasi Halal Jadi Daya Tarik Wisatawan Muslim

Logo halal yang dikeluarkan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Foto: Instagram @halal.indonesia
Logo halal yang dikeluarkan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Foto: Instagram @halal.indonesia

Survei terbaru dari Vero dan GMO-Z.com Research mengungkap bahwa sertifikasi halal, terutama dari sisi food and beverage menjadi salah satu daya tarik mendukung pariwisata ramah muslim. Baik bagi wisatawan Indonesia ataupun secara global.

Sebanyak 89 persen Muslim Indonesia menempatkan ketersediaan makanan halal sebagai prioritas utama saat bepergian. Secara global, sektor pariwisata diperkirakan akan tumbuh dari USD 256,5 miliar pada 2023 menjadi USD 410,9 miliar pada 2032.

“Dari sisi FnB, tentunya sertifikasi penting menjadi salah satu daya tarik juga, terutama bagi wisatawan-wisatawan yang memang mereka sangat memegang teguh keyakinannya,” kata Executive Director Vero Indonesia, Diah Andrini Dewi, dikutip Sabtu (27/09/2025).

Temuan ini berpengaruh langsung ke strategi destinasi global, Tokyo-Dubai. Survei melibatkan 509 responden Muslim Indonesia berusia 18-45 tahun dengan latar belakang beragam tunjukkan ketersediaan makanan halal tidak hanya pengaruhi pilihan tempat, tapi membentuk persepsi tentang seberapa ramah tempat bagi wisatawan muslim.

“Ketika negara dengan mayoritas non-muslim turut menyediakannya, pengalaman itu terasa berbeda. Kehadiran fasilitas halal dipandang sebagai bentuk kepedulian budaya dan rasa menghargai, yang membuat wisatawan muslim merasa lebih diterima,” ujar Diah.

Diah menilai, faktor itu semakin penting seiring meningkatnya minat atas destinasi non-muslim. Seperti Singapura, Jepang, dan Korea Selatan yang bersaing ketat dengan negara mayoritas muslim seperti Malaysia dan Arab Saudi sebagai pilihan utama.

Pelaku industri turut memenuhi permintaan untuk berkontribusi terhadap perkembangan ekonomi dan perkembangan industri itu sendiri. Seperti dari sisi infrastruktur industri halal bisa menyediakan fasilitas ramah Muslim, menyediakan tempat untuk beribadah baik di transportasi ataupun daerah yang sering dikunjungi wisatawan.

Pariwisata halal dinilai bukan hanya memenuhi kebutuhan wisatawan muslim, tapi juga tawarkan nilai universal yang bermanfaat bagi semua wisatawan. Seperti nilai-nilai kebersihan, kenyamanan, transparansi kandungan dari makan yang bisa disampaikan.

“Jadi, nilai-nilai tersebut yang mungkin kita bisa komunikasikan kepada traveler-traveler lain yang non-muslim, sehingga mereka juga akan merasa nyaman untuk menikmati hidangan ataupun menikmati halal turisme ataupun wisata ramah muslim,” kata Diah. (Antara/WS05)