Seperti Pesan Retno, Pidato Prabowo Tegaskan Palestina Ada di Jantung Diplomasi Indonesia

Presiden RI, Prabowo Subianto, berpidato di Konferensi Internasional Tingkat Tinggi untuk Penyelesaian Damai atas Masalah Palestina dan Implementasi Solusi Dua Negara yang diselenggarakan di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, Selasa (23/09/2025). Foto: Setpres
Presiden RI, Prabowo Subianto, berpidato saat Konferensi Internasional Tingkat Tinggi untuk Penyelesaian Damai atas Masalah Palestina dan Implementasi Solusi Dua Negara yang diselenggarakan di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, Selasa (23/09/2025). Foto: Setpres

Pidato Presiden Prabowo di Majelis Umum PBB membanggakan bangsa Indonesia. Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia (UI), Agung Nurwijoyo, salah satu yang jadi perhatian ketika bicara tentang solusi dua negara untuk Israel-Palestina.

Agung melihat, ini satu bentuk rangkaian konsistensi Indonesia di panggung dunia. Senantiasa dibawa pemimpin-pemimpin Indonesia sejak Soekarno sampai Prabowo, dan prinsip solusi dua negara itu senantiasa ditawarkan Indonesia kepada dunia.

“Pembelaan terhadap Palestina, solidaritas terhadap Palestina, apa yang kita bisa berikan untuk Palestina, semua itu sudah, bahkan kalau pakai bahasa Bu Retno (Menteri Luar Negeri Indonesia (2014-2024) dulu kan adalah Palestina itu ada di jantung diplomasi Indonesia,” kata Agung kepada terusterang.id yang ditayangkan dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (26/09/2025).

Tapi, Agung berpendapat, ada sedikit yang membedakan. Walau secara prinsip memang sama, cara penyampaian pesan di zaman Presiden Jokowi dan Presiden Prabowo berbeda. Salah satu contohnya dalam narasi yang dibawa Jokowi dan Prabowo terhadap Israel.

Di zaman Jokowi, ia menerangkan, kecenderungan narasinya menolak normalisasi apapun hubungan Indonesia dengan Israel yang selalu digaungkan. Tapi, di zaman Prabowo narasi yang digunakan mengakui kedua negara, baik itu Palestina maupun Israel.

“Artinya, ada syarat, artinya ada kondisionalitas yang kemudian dimunculkan. Walaupun secara prinsip dua-duanya dalam konteks solusi dua negara, tapi cara menyampaikan pesannya berbeda,” ujar Agung.

Bahkan, lanjut Agung, perbedaan cara itu sempat melahirkan kritik ketika beberapa kali pemerintahan di era Jokowi menggunakan narasi kalau Israel butuh mendapatkan satu jaminan keamanan. Ia merasa, narasi seperti itu sebenarnya tidak salah juga.

Tapi, Agung menekankan, penggunaan narasi seperti itu seharusnya menggunakan pula narasi yang sama terhadap Palestina. Artinya, kedua belah pihak harus diperhatikan, tidak hanya memikirkan jaminan keselamatan bagi Israel, tapi juga bagi Palestina.

“Jadi, ada sedikit perubahan pesan cara menyampaikan pesan yang kemudian diberikan. Tapi, saya juga melihat bahwa hal ini kalau dalam konteks sifatnya lebih positive thinking, saya pikir Prabowo ingin merangkul konteks diplomatik yang lebih luas,” kata Agung.

Sebelumnya, setelah vakum satu dekade terakhir, pemimpin Indonesia akhirnya tampil kembali dalam pentas politik terbesar dunia. Tepatnya, ketika Presiden Prabowo menyampaikan pidato di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Markas PBB.

Terakhir, pidato disampaikan Presiden Jokowi secara virual. Sisanya, diamanahkan kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla atau Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi. Pidato Presiden Prabowo jadi momentum penting dan bisa dibilang bersejarah bagi Indonesia. (WS05)