Di Tempat Mahfud MD, Rocky Gerung Ungkap Keresahan Soal Berkuasanya Kaum Demagog

Pengamat politik, Rocky Gerung, dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (23/09/2025). Foto: Wahyu Suryana
Pengamat politik, Rocky Gerung, dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (23/09/2025). Foto: Wahyu Suryana

Pengamat politik, Rocky Gerung mengatakan, Indonesia didirikan oleh semacam energi intelektual karena para Founding Parents kita berdebat untuk menghasilkan ide bernama republik. Jadi, dari awal negeri ini dituntun oleh kemampuan intelektual.

Maka itu, ia mengingatkan, negeri ini memiliki genealogi atau political origins intelektual. Sayang, origins kita berubah jadi buzzer. Akibatnya, istilah bring intellectual into the politic berubah jadi bring politic into the intellectual.

“Kembalikan suasana intelektual itu dalam politik. Kenapa? Karena ada dasar sejarah itu, sejarah konstituan, tidak mungkin negeri ini terus diurus kaum demagog, negeri ini didirikan oleh para pedagog, sekarang dikuasai kaum demagog,” kata Rocky kepada terusterang.id yang juga ditayangkan dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (23/09/2025).

Senada, pakar hukum tata negara, Mahfud MD melihat, demagog ini masih jadi semacam penyakit dalam negeri kita. Secara sederhana, ia menerangkan, kaum demagog adalah orang-orang yang pintar bicara, pintar janji, tapi sebenarnya tidak bisa bekerja.

Bahkan, ia menilai, banyak orang-orang yang sering mendemagogkan dirinya sendiri, sudah tahu bahwa yang dikatakan itu bohong masih diteruskan. Sehingga, kesalahan-kesalahan yang dilakukan malah dipaksakan kepada orang lain sebagai kebenaran.

“Dia tidak mau menerima fakta dan analisis intelektual yang tidak menguntungkan dia secara politik maupun secara ekonomis, itulah yang banyak,” ujar Mahfud.

Rocky mengingatkan, hari ini analisis dalam negeri dan luar negeri mulai mendeteksi kalau Indonesia sedang masuk dalam jebakan militerisme atau creeping militarism. Lalu, banyak orang merasa Indonesia seharusnya dikembalikan ke pemimpin sipil.

Tapi, sosok seperti Joko Widodo merupakan sipil dengan kultur politik militeristik. Jadi, Rocky berpendapat, persoalan kita bukan orang sipilnya, tapi nilai sipilnya. Karenanya, yang lebih tepat kepemimpinan berbasis the supremacy of civilian value.

“Jadi, value-nya itu dalam demokrasi, orang sipil maupun orang militer harus tunduk pada civilian value. Itu dasarnya tuh. Jadi, kita ada di dalam deficit civilian value. Nah, itu yang mesti kita perbaiki,” kata Rocky.

Rocky mencontohkan di kursi Presiden RI, ada Prabowo Subianto yang berasal dari militer dan kini mulai terlihat sifat-sifat militeristiknya. Padahal, sebelumnya ada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga berasal militer, tapi sangat sipil.

Hal itu dibenarkan Mahfud. Mahfud mengaku menyaksikan sendiri bagaimana SBY sangat menerapkan nilai-nilai sipil ketika memimpin. Menurut Mahfud, itu yang membuat SBY selalu tampak demokratis karena tindakannya selalu disandarkan ke konstitusional.

“Mungkin dia punya kepentingan politik tertentu, tapi tetap koridornya konstitusi. Oleh sebab itu, diskusi-diskusi tentang konstitusi misalnya, tentang isu-isu yang sedang hangat biasanya Pak SBY bicara dari konstitusi bagaimana, kalau saya jalan ini secara hukum bagaimana, akibatnya secara politik bagaimana, hukumnya mau apa,” ujar Mahfud. (WS05)