Purbaya Dinilai Gunakan Teknik Lama Menteri Baru yang Ingin Diperhatikan

Intelektual, Hamid Basyaib, dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (18/09/2025). Foto: Wahyu Suryana
Intelektual, Hamid Basyaib, dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (18/09/2025). Foto: Wahyu Suryana

Kemunculan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, yang menggantikan Sri Mulyani langsung menghentak publik. Bukan dari kebijakan-kebijakan, tapi dari pernyataan-pernyataan yang menjadi kontroversi, bahkan di hari pertamanya sebagai Menkeu.

Komentarnya soal tuntutan rakyat bertajuk 17+8, soal demonstrasi yang terjadi di seluruh Indonesia, soal LPS, bahkan soal rencana-rencana Kemenkeu ke depan. Analis, Hamid Basyaib menilai, cara ini merupakan strategi lama untuk mendapat perhatian.

“Oh ini teknik lama sebetulnya, gimik seorang pejabat baru kalau mau diperhatikan dia harus tampil bold, baik pernyataannya terutama yang paling gampang pernyataan dulu, belum tentu kebijakan,” kata Hamid kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Poker di kanal Youtube Terus Terang Media, Kamis (18/09/2025).

Kebijakan, lanjut Hamid, tentu membutuhkan macam-macam rumusan, tidak semudah komentar-komentar untuk disampaikan. Hamid turut menyoroti komentar Purbaya soal demo-demo yang disebut dilakukan karena orang-orang itu tidak sibuk bekerja.

Kemudian, Purbaya menyebut kalau ekonomi berhasil dia buat 6-7 persen mereka akan sibuk makan enak dan tidak akan smepat lagi melakukan aksi unjuk rasa. Bagi Hamid, ini sekadar teknik lama dalam mencari perhatian yang memang terbukti berhasil.

“Itu nyelekutis (semacam nakal) kata orang Jawa, tapi ini barangkali diperlukan ya apalagi dalam situasi hari-hari ini yang berat. Nah, saya kira itu teknik lama juga,” ujar Hamid.

Dulu, Hamid mengingatkan, Konghucu yang disanjung-sanjung sampai menjadi sebuah agama waktu diangkat pertama kali jadi hakim turut melakukan teknik serupa. Dia, untuk pertama kalinya membuat vonis menghukum mati seorang penjahat kecil.

“Sehingga, orang kaget kan, loh kenapa, wah dari situ orang mulai tanya, eh siapa ini hakim baru, mulai dia perhatikan. Kalau dia ngetok palu biasa-biasa aja tidak, makanya tak ada yang hafal nama hakim di Indonesia karena vonis yang biasa saja,” kata Hamid.

Tapi, ketika hakim membuat vonis luar biasa pasti namanya langsung mengemuka. Sebut saja mantan hakim, Bisma Siregar, yang mengkualifikasi keperawanan sebagai barang, sehingga ketika ada perkosaan misalnya artinya ada pencurian terhadap keperawanan.

Selain itu, ada listrik disebut pula pencurian, yang dalam arti tradisional tentu tidak bisa masuk kualitifikasi pencurian karena barangnya tidak terlihat. Maka itu, Hamid melihat, Purbaya sedang memakai teknik itu dan tampaknya cukup berhasil.

“Nah, mudah-mudahan, kita berperasangka baik aja lah ya, mudah-mudahan iya dia itu tujuannya baik dan mudah-mudahan efek perseptif yang mau dibangun memang berhasil,” ujar Hamid. (WS05)