Sekjen PBB sampai Penciptanya Minta AI Diregulasi Segera Secara Ketat, Ada Apa?

Intelektual, Hamid Basyaib, dalam program Perpektif di YouTube Terus Terang Media, Minggu (18/10/2026). Foto: Wahyu Suryana
Intelektual, Hamid Basyaib, dalam program Perpektif di YouTube Terus Terang Media, Minggu (18/10/2026). Foto: Wahyu Suryana

Artificial Intelligence (AI) merupakan primadona baru yang menjadi 1 dari 4 masalah besar yang mengancam umat manusia. Hal itu disampaikan tidak kurang-kurang oleh Sekjen PBB, Antonio Guterres, dalam Sidang Umum PBB di New York, September 2026.

“Satu perang, kedua climate change, lalu ketimpangan sosial, tapi ada primadona baru yang menjadi masalah, yaitu perkembangan AI atau kecerdasan buatan. Sejauh mana ini bahayanya di mata Sekjen PBB, artinya dia mewakili umat manusia seluruh dunia, atau sejauh mana juga manfaatnya,” kata Hamid kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam Perspektif di YouTube Terus Terang Media, Minggu (18/10/2026).

Ia menilai, AI sesuatu yang tidak hanya menarik, tapi penting dan bisa menentukan masa depan umat manusia dan peradaban dalam waktu yang tidak terlalu jauh. Sampai saat ini, Hamid melihat, perdebatan tentang ini membelah dua kubu, pro dan kontra.

“Menjadikan kelompok yang pro dan kontra itu dua kubu yang tajam, hampir tidak ada jalan tengah, jalan tengah diupayakan tapi diabadikan. Dua kubu ini bisa dibilang kubu optimis dan kubu pesimis. Kubu optimis bilang bahwa AI ini perlu dikembangkan sejauh-jauhnya, dan kubu pesimis bilang jangan dikembangkan terlalu jauh, tapi dia juga tidak meminta ini ditahan karena sesuatu yang mustahil,” ujar Hamid.

Keduanya, lanjut Hamid, sebetulnya mengatasnamakan kesejahteraan umat manusia, tapi dengan alasan yang berbeda dan bahkan bertentangan. Sementara, kelompok optimis itu banyak diisi pemain-pemain atau perusahaan-perusahaan AI besar, kecuali Antropic.

CEO Antropic, Dario Amodei, ingin AI diperlambat perkembangannya dengna alasan yang sebenarnya aneh. Ia meyakini, manfaat AI sangat besar dan pekerjaan manusia hilang sebenarnya bisa dicegah, tapi nantinya pendapatan manusia dilakukan standarisasi.

“Sehingga, penderitaan manusia, kemiskinan absolut atau kemiskinan berat seperti dikhawatirkan akan menimpa miliaran manusia di dunia ini tidak akan terjadi, jangan khawatir. Sebaliknya, kubu pesimis disebut The Doomers biasanya nih, Kiamatisme, menganggap kalau ini dilanjutkan dalam kecepatan seperti sekarang, maka dunia bisa dibilang kiamat. Belum tentu dalam arti fisikal, tapi juga ada unsur fisikal kalau AI ini bisa dimanipulasi untuk misalnya mengontrol stasiun nuklir,” kata Hamid.

Kemudian, pemimpin dunia bisa melancarkan bom nuklir tanpa diutak-atik manusia, misalnya Presiden Cina atau Presiden AS. Ia merasa, itu skenario-skenario yang sangat mungkin terjadi, bukan yang mustahil seperti di film-film science fiction.

Hamid berpendapat, apa yang dikhawatirkan Guterres itu memang nyata karena dia mendapat masukan dari ahli-ahli terbaik di bidang ini. Selain itu, yang juga menarik perhatian peringatan datang dari The Godfather of AI, Geoffrey Hinton.

“Dia dianggap penemunya, Godfather-nya begitu, mendapat Nobel 2-3 tahun lalu, dia bilang kita masih punya waktu untuk meregulasi perkembangan Artificial Intelligence ini dalam waktu kurang dari setahun. Dia kalau tak salah ngomong bulan lalu gitu,” ujar Hamid.

Bagi Hinton, jika tidak diregulasi secara cepat dan ketat, dan kita terlambat, maka hampir tidak ada lagi peluang bagi kita mengendalikan atau mengontrol perkembangan AI ini. Ia meyakini, dunia kurang dari 10 tahun akan mengalami situasi yang berat.

“Nah, kita sulit sekali untuk mengabaikan pendapat yang menggambarkan skenario yang sangat muram ini karena yang ngomong tidak kurang dari Geoffrey Hinton, Godfather itu. Jadi, tidak mungkin dia sembarangan ngomong, dia ngerti betul, dia yang bikin, dan dia mengakui bahwa AI ini bukan tools, bukan alat. Untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, manusia membuat satu teknologi yang tidak bisa dikontrolnya. Belum pernah ada, Anda sebut misalnya pistol, pisau, pedang, mobil, atau pesawat terbang, semua itu bisa dikontrol oleh pembuatnya, oleh pabriknya, oleh ahlinya,” kata Hamid.

Sekarang, ia menambahkan, untuk pertama kali AI ini tidak bisa dikontrol atau usai dibuat dia mandiri. Walau banyak yang mengejek dan meragukan, Hinton menyampaikan, di awal memang mereka yang membuatnya, tapi setelah itu AI berjalan secara mandiri.

“Kata Geoffrey Hinton, waktu kita bikin, kita sediakan platfor, frame, begitu dia sudah hidup, ketika dia berinteraksi, misal dengan data, dengan fenomena tertentu, dia ambil keputusan sendiri, kata Geoffrey Hinton. Kami pembuatnya tidak mengerti lagi, tidak tahu bagaimana cara dia berpikir dan berinteraksi. Jadi, selanjutnya apa, AI ini satu alat, dalam tanda petik atau agen lebih tepat, bukan tool, bukan alat, yang bisa menciptakan AI lagi. Begitu kuatnya dan begitu mandirinya AI ini,” ujar Hamid. (WS05)