Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI), Islah Bahrawi mengatakan, kepentingan politik menjadi titik lemah dari semua agama. Bahkan, sejarah Islam penuh ceceran darah karena persoalan politik.
“Di Eropa, pernah terjadi perang antar pemeluk agama Kristen selama 30 tahun dan membunuh 8 juta orang Kristen di Eropa,” kata Islah kepada terusterang.id yang juga ditayangkan dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (10/09/2025).
Setelah itu, mereka selesai lewat berbagai perjanjian damai. Tapi, pada akhirnya melahirkan berbagai sekte dan aliran-aliran berbeda di dunia Kristiani seperti Katolik, Protestan, dan sekte lain di seluruh dunia.
Di Islam, ada konflik antara sahabat, Umar bin Khattab dan Sa’ad bin Ubadah usai Rasul wafat, bahkan sudah terjadi saat jenazah Rasul belum dimakamkan. Terjadi adu urat saraf dan adu ketegangan antara mereka.
Sa’ad merasa, pengganti Rasul harus dari suku local, tidak boleh Umar atau orang-orang dari suku Quraish. Umar menganggap orang-orang seperti dirinya layak. Sementara, Rasul memang tidak pernah menunjuk pengganti.
Di titik ini sebenarnya umat Islam harus sadar. Sebab, Rasul tidak mau mewariskan kepentingan kekuasaan dalam wafatnya. Rasul tidak pula ingin mewariskan kepentingan politik kepada umat Islam setelah kepergiannya.
“Rasul tidak ingin cawe-cawe dalam kekuasaan di Madinah kepada sahabat, Rasul hanya ingin mewariskan agama ini sebagai the guidance of morality, sebagai penuntun dari sikap sikap moral, bukan politik,” ujar Islah.
Abu Bakar Ash Siddiq secara aklamasi ditunjuk sahabat untuk mengganti posisi Rasul. Keputusan itu diambil karena ada pertanda kecil setiap Rasul sakit, Abu Bakar yang menggantikan sebagai imam di Masjid Nabawi.
Setelah itu, seperti diceritakan banyak kitab-kitab tarikh, Abu Bakar diracun karena persoalan politik. Umar ditusuk oleh seorang Budak dari Majusi, Usman dibunuh sesame orang Islam setelah dikepung berhari-hari.
Sebelumnya, ada Perang Jamal antara pasukan Siti Aisyiyah dan pasukan Ali bin Abi Thalib, ada Perang Shiffin antara Ali dan Muawiyah bin Abu Sufyan. Ali bin Abi Thalib pun tewas dibunuh oleh kelompok Khawarij.
Lahirlah kelompok-kelompok yang kita kenal sebagai kelompok Syiah, dan kelompok yang menamakan diri sebagai Sunni. Islah menekankan, politik jadi gambaran besar eskalasi sejarah yang melahirkan perang-perang ini.
“Ketika agama itu ditunggangi oleh kepentingan politik, maka semua kejahatan akan berkesan terhormat,” kata Islah. (WS05)
